DI SINI
EMPIRI SENSUAL, LOGIK, ETIK, INTUITIF DAN EMPIRI TRANSENDEN
EMPIRIK SENSUAL, LOGIK, ETIK,
INTUITIF DAN EMPIRI TRANSENDENTAL
Makalah
Mata
Kuliah : Filsafat Ilmu
Oleh
:
Ahmad
Faiz, S.Pd.I MP-13117
Moh
Amin, S.Pd.I MP-13118
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
PASCA
SARJANA
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
2014
EMPIRI SENSUAL, LOGIK, ETIK, INTUITIF DAN EMPIRI TRANSENDEN
I.
Pendahuluan
Manusia selalu berusaha menemukan
kebenaran. Banyak cara telah ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain
dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau
empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan
prinsip-prinsip yang terkadang melampaui penalaran rasional, kejadian-kejadian
yang berlaku di alam itu dapat dimengerti.
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan
tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan
dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda.Pengetahuan
inderawi merupakan struktur yang terendah. Tingkat pengetahuan yang lebih
tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah
menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya
kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah
pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi.Pada
tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya
agar terstruktur dengan jelas.
Metode ilmiah yang dipakai dalam suatu
ilmu tergantung dari objek ilmu yang bersangkutan. Macam-macam objek ilmu
antara lain fisiko-kimia, mahluk hidup, psikis, sosio politis, humanistis dan
religius. Filsafat ilmu memiliki tiga cabang kajian yaitu ontologi,
epistemologi dan aksiologi.
Ontologi membahas tentang apa itu
realitas. Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat ini membahas
tentang apa yang bisa dikategorikan sebagai objek ilmu pengetahuan. Epistemologis membahas masalah metodologi
ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, jalan bagi diperolehnya ilmu
pengetahuan adalah metode ilmiah dengan pilar utamanya rasionalisme dan
empirisme. Aksiologi menyangkut tujuan diciptakannya ilmu pengetahuan,
mempertimbangkan aspek pragmatis-materialistis. Kerangka filsafat di atas akan
memudahkan pemahaman mengenai keterkaitan berbagai ilmu dalam mencari
kebenaran.
II.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah empirik sensual, logik, etik, intuisi, dan empirik transendental dalam filsafat?
2. Bagaimanakah objek kajian filsafat ilmu?
3. Bagaimanakah stratifikasi
kebenaran menurut filsafat ilmu?
III. Pembahasan
A. Filsafat Ilmu Memandang Empirik
Sensual, Logik, Etik, Intuisi, dan
Empirik Transendental Dalam Objek Kajiannya
1
Pengertian Empirik Sensual, Logik, Etik, Intuisi, Dan Empirik
Transendental
Objek kajian filsafat ilmu digunakan untuk mengetahui pokok dari
permasalahan dan untuk mengetahui hubungan dari suatu objek dengan obek yang
lain.
Objek materi filsafat adalah segala sesuatu yang ada dalam
kenyataan, pikiran, dan kemungkinan. Sedangkan objek formal filsafat adalah
menyeluruh secara umum artinya dalam hal tertentu dianggap benar selama tidak
merugikan kedudukan filsafat sebagai ilmu. Untuk mengetahui posisi empirik sensual, logik, etik, intuisi, dan empirik
transendental alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui pengertian masing-masing
dari objek tersebut
1.
Empirik sensual
Arti kata empiris secara
bahasa adalah berdasarkan
pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang
telah dilakukan).[1] Sedangkan
sensual berasal dari kata sense yang berarti ‘indra’.[2]
Jadi dapat kita simpulkan bahwa empiri sensual berarti pengalaman yang berasal
dari panca indra atau pengalaman idrawi dan sekaligus menunjukkan objek kajian
filsafat ilmu yang berupa objek yang dapat diindra
2.
Logik
Logika berasal dari bahasa Yunani, dari kata sifat
"logike" yang berhubungan dengan kata benda "logos"
yang berarti 'perkataan' atau 'kata' sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Dengan demikian terdapatlah suatu jalinan yang kuat antara pikiran
dan kata yang dimanifestasikan dalam bahasa. Secara etimologis dapatlah
diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan
dalam bahasa.
Logika adalah ilmu yang merumuskan tentang hukum-hukum, asas-asas,
aturan-aturan atau kaidah-kaidah tentang berpikir yang harus ditaati supaya
kita dapat berpikir tepat dan mencapai kebenaran. Atau dapat pula didefinisikan
sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas akal atau rasio
manusia dipandang dari segi benar atau salah.[3] Hal senada juga diungkapkan oleh Karomani (2009: 14) yang mendefinisikan logika sebagai suatu kajian
tentang bagaimana seseorang mampu untuk berpikir dengan lurus
Dalam filsafat ilmu, logika sangat dibutuhkan
untuk menjelaskan dan memahami sebuah gejala keilmuan. Amsal Bakhtiar
mengatakan, logika adalah sarana utuk berfikir sistematis, valid dan dapat
dipertanggungjawabkan. Karena itu berfikir logis adalah berfikir sesuai
aturan-aturan berfikir.[4]
Suwardi Endraswara menyatakan bahwa logika adalah cabang filsafat umum yang
membicarakan masalah berpikir tepat, yaitu mengikuti kaidah-kaidah berpikir
yang logis.[5]
3.
Etik
Secara bahasa etika berarti ilmu
tentang asas-asas akhlak.[6]
Sebenarnya Etika juga merupakan cabang dari filsafat yang
membicarakan tentang nilai baik-buruk. Etika disebut juga Filsafat Moral. Etika membicarakan
tentang pertimbangan-pertimbangan tentang tindakan-tindakan baik buruk, susila
tidak susila dalam hubungan antar manusia. [7]
4.
Intuisi
Secara bahasa intuisi
berarti gerak hati, bisikan hati; kemampuan mengetahui (memahami) sesuatu tanpa
dipikir[8]
Maksudnya adalah bahwa manusia memiliki gerak hati atau disebut hati
nurani. Gerak hati mampu membuat manusia melihat secara langsung suatu perkara benar atau salah,
jahat atau baik, buruk atau baik secara moral. Ia dirujuk sebagai suatu proses
melihat dan memahami masalah secara spontan juga merupakan satu proses melihat
dan memahami suatu masalah secara intelek. Pengetahuan intuitif ini
merupakan pengetahuan langsung tentang suatu hal tanpa melalui proses pemikiran
rasional. Namun kemampuan seperti ini bergantung kepada usaha manusia itu
sendiri.
Intuisi adalah daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu
tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati.
5.
Empirik transendental
Transenden berarti diluar segala kesanggupan
manusia; luar biasa; utama. Sedangkan transendental berarti menonjolkan
hal-hal yang bersifat kerohanian; sukar dipahami; gaib; abstrak.[9]
Kemampuan manusia terbatas dalam memahami hakekat dunia, tetapi keterbatasan
ini dikemukakan Kant lewat teori kritiknya, yaitu; usaha-usaha untuk meninjau
batas-batas pengetahuan manusia lewat realitas. Menurutnya realitas memiliki
hal empirik dan transendental. Sesuatu yang transendental adalah sesuatu yang
pasti kebenarannya, sehingga ia bersifat laten dan harus diterima tanpa ada
kritikan. Oleh karena itu ia berada diluar tapal batas pengetahuan manusia,
yang oleh Khan disebut noumena. Akan tetapi yang transendental itu memiliki
refleksi empirik, yaitu apa yang nampak sebagai citra dari noumena dan dapat
diketahui manusia sebagai fenomena.[10]
2
Objek Kajian Filsafat Ilmu
Objek studi filsafat ilmu setidaknya ada dua yang substantive, dan
dua yang instrumentatif. Dua yang substantif adalah kenyataan dan kebenaran,
sedangkan dua yang instrumentatif
adalah konfirmasi dan logika inferensi.
1.
Kenyataan atau Fakta
Fakta
atau kenyataan memiliki pengertian yang beragam, bergantung dari sudut pandang
filosofis yang melandasinya.
· Positivistik
berpandangan bahwa sesuatu yang nyata bila ada korespondensi antara yang
sensual satu dengan sensual lainnya.
· Fenomenologik
memiliki dua arah perkembangan mengenai pengertian kenyataan ini. Pertama,
menjurus ke arah teori korespondensi yaitu adanya korespondensi antara ide
dengan fenomena. Kedua, menjurus ke arah koherensi moralitas, kesesuaian antara
fenomena dengan sistem nilai.
· Rasionalistik
menganggap suatu sebagai nyata, bila ada koherensi antara empirik dengan skema
rasional
· Realisme-metafisik
berpendapat bahwa sesuatu yang nyata bila ada koherensi antara empiri dengan
obyektif.
· Pragmatisme
memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi.[11]
Di
sisi lain, Lorens Bagus (1996) memberikan penjelasan tentang fakta obyektif dan
fakta ilmiah. Fakta obyektif yaitu peristiwa, fenomen atau bagian realitas yang
merupakan obyek kegiatan atau pengetahuan praktis manusia. Sedangkan fakta
ilmiah merupakan refleksi terhadap fakta obyektif dalam kesadaran manusia. Yang
dimaksud refleksi adalah deskripsi fakta obyektif dalam bahasa tertentu. Fakta
ilmiah merupakan dasar bagi bangunan teoritis. Tanpa fakta-fakta ini bangunan
teoritis itu mustahil. Fakta ilmiah tidak terpisahkan dari bahasa yang
diungkapkan dalam istilah-istilah dan kumpulan fakta ilmiah membentuk suatu
deskripsi ilmiah.
Positifisme hanya mengakui penghayatan empirik sensual. Sesuatu
sebagai nyata bagi positivisme bila ada korespondensi antara yang sensual satu
dengan yang sensual lainnya.
2.
Kebenaran
Kebenaran
adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai
yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan
(human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.[12]Berbicara
tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu
sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya
haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Poedjawiyatna
mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang
disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui.[13]
Bagi positifist benar
substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu degan empiri sensual. Bagi realist
benar substantif identik dengan benar riil obyektif, benar sesuai dengan
konstruk skema rasional tertentu.[14]
Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran
mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang
lebih jati lagi dan demikian
seterusnya. Hal
ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata
lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia.
Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak
henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia.
Kebenaran
dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan
kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita
rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi,
ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran
metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena
yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari
kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya.[15]
3.
Konfigurasi
Fungsi ilmu adalah memperjelas, memprediksi
proses dan produk yang akan datang,
atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai
konfirmasi absolute atau probabilistik.
4.
Logika inferensi
Silogisme formil dari Aristoteles
menggunakan korespondensi dalam jenis. Dikatakan silogisme formil, karena
kebenaran dijamin oleh kebenaran bentuk formal proposisinya. Dikatakan
silogisme kategorik, karena sesuatu proposisi minor disimpulkan benar atau
salah atas posisinya yang berbeda di dalam jenis atau luarnya.[16]
A. Stratifikasi Kebenaran Menurut Filsafat
Ilmu
Berbicara tentang kebenaran ilmiah
tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat
digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk
mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Sejumlah guru besar filsafat ilmu
dan sejarah ilmu pada perempat terakhir abad ke 20 ini telah menemukan
pandangan hidup atau weltanschauung dalam metodologi illmunya. Dengan
kata lain telah memasukkan etik ke dalam kerangka berfikir ilmu, mewarnai
pengamatannya dan pengumpulan faktanya, dan lebih jauh dalam memberikan
pemaknaan selanjutnya. pada
positivist hanya mengakui kebenaran sensual dan logic (dan sebagian
mengakui kebenaran etik). Sementara yang kedua padat dengan pengakuan kebenaran
transendental. Yang pertama tampil sebagai ilmu-ilmu aqli, sedangkan yang kedua
tampil sebagai ilmu-ilmu naqli. Yang pertama hanya mengakui kebenaran yang teramati; sedangkan yang kedua mengakui
kebenaran mengenai hal-hal yang gaib.
Kebenaran
positivistik, bukanlah kebenaran tuntas; kebenaran rasionalistik bukanlah
kebenaran yang tuntas; kebenaran dikhotomik ilmu dan wahyu, bukanlah kebenaran
yang memecahkan masalah; kebenaran integratif antara ilmu dengan wahyu adalah
kebenaran yang tuntas dan memberikan kepada kita pedoman hidup manusia ilmuwan.[17]
Pendekatan phenomenologik mengakui
bahwa kebenaran itu ganda. Sebagian pemikir islam ada pula yang menampilkan
bahwa kebenaran itu ganda; kebenaran Allah lain dengan kebenaran manusia;
urusan agama lain dengan urusan politik dan budaya.
Noeng Muhadjir dalam bukunya
‘Filsafat Ilmu (Positivisme, Post positivism, dan PostModerisme) menawarkan
untuk membangun ilmu yang Islami haruslah dikonstruksikan atas pengakuan
terhadap kebenaran monistik. Kebenaran dalam aktualisasi tertinggi memang
kebenaran Ilahiyah, kebenaran yang diajarkan Allah kepada manusia. Kebenaran
dalam aktualisasi keseharian atau empirik tampil relevan dengan masalahnya.
Masalah aktualnya dalam biologi atau phisika, kebenaran yang muncul dominan
adalah kebenaran empirik sensual; kadang berkembang menjadi masalah etik bayi
tabung, masalah etik alat perang nuklir. Semua kebenaran yang empirik sensual
dan yang logik harus dikonsrultasikan kepada kebenaran etik. Kemudian kebenaran
juga dapat diperoleh dari gerak hati atau intuisi, hati bekerja pada tempat yang tidak
mampu dijangkau oleh akal yaitu penggalaman emosional dan spiritual. Kelemahan
akal adalah karena ia ditutupi oleh banyak perkara. Menurut Immanuel Kant
(1724:1804) akal tidak pernah mampu mencapai pengetahuan langsung tentang
sesuatu perkara. Akal hanya mampu berpikir perkara yang dilihat terus
(fenomena) tetapi hati mampu menafsir suatu perkara dengan tidak terhalang oleh
perkara apapun tanpa ada jarak antara subjek dan objek.[18]
Umat Islam patut bersyukur karena ada tempat konsultasi yang lebih daripada
kebenaran etik insaniyah, yaitu kebenaran integrative Illahiyah, karena
kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits memberikan kepada kita manusia
ayat, isyarat, hudan, dan sekaligus rahmah
Secara epistemologik, kebenaran
Illahiyah termasuk yang empirik
transendental; artinya untuk menjangkau itu memerlukan
penghayatan empirik lewat akal budi-keimanan kita. Kritik bahwa yang transendental
itu tak teramati, tak terukur, perlu dijawab dengan pernyataan bahwa kebenaran
itu tidak terbatas pada yang empirik sensual seperti positivisme. Manusia adalah
makhluk yang lebih dari sekedar yang sensual : manusia punya akal, punya
budi/hati nurani, dan punya iman.
Pada saat sekarang duni ilmu telah
berkembang dengan pesat sehingga mengakui adanya empiri yang tidak sensual,
yang tidak dapat dihayati empirinya kecuali hasil terapannya. Chip computer
yang dapat membuat sejuta langkah dalam satu menit, energi nuklir untuk
listrik, adalah empiri yang tak dapat diamati langsung, melainkan diamati lewat
hasil terapannya. Juga, hal-hal yang transendental : rahmah, hikmah dan
maghfirah kehidupan tak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat dihayati
lewat hasilnya.[19]
IV. Simpulan
Kebenaran positivistik,
bukanlah kebenaran tuntas; kebenaran rasionalistik bukanlah kebenaran yang
tuntas; kebenaran dikhotomik ilmu dan wahyu, bukanlah kebenaran yang memecahkan
masalah; kebenaran integratif antara ilmu dengan wahyu adalah kebenaran yang
tuntas dan memberikan kepada kita pedoman hidup manusia ilmuwan.

