A. Pendahuluan
Manajemen pendidikan yang diterapkan di lingkungan internal sistem
persekolahan hanyalah sebagian dari tanggung jawab kepala sekolah sebagai
manajer pendidikan. Para pengelola pendidikan (kepala sekolah, kepala dinas
pendidikan) sebagai eksekutif modern saat ini harus mampu mengamati dan
merespons segenap tantangan yang dimunculkan oleh lingkungan eksternal baik
yang dekat maupun yang jauh. Lingkungan eksternal dekat adalah lingkungan yang
mempunyai pengaruh langsung pada operasional lembaga pendidikan, seperti
berbagai potensi dan keadaan dalam bidang pendidikan yang menjadi konsentrasi
usaha sekolah itu sendiri, situasi persaingan, situasi pelanggan pendidikan,
dan pengguna lulusan. Kesemuanya berpengaruh pada penentuan strategi yang
diperkirakan mendukung sekolah mencapai tujuannya. Lingkungan eksternal yang
jauh adalah berbagai kekuatan dan kondisi yang muncul di luar lingkungan
eksternal yang dekat meliputi keadaan sosial ekonomi, politik, keamanan
nasional, perkembangan teknologi, dan tantangan global. Secara tidak langsung
berpengaruh terhadap penyelenggaraan sistem pendidikan di suatu sekolah.
Faktor lingkungan internal dan eksternal perlu diantisipasi, dipantau,
dinilai, dan disertakan sedemikian rupa ke dalam proses pengambilan keputusan
eksekutif. Para pengambil keputusan, termasuk di dalamnya kepala sekolah maupun
pengelola pendidikan lainnya seringkali terpaksa mengalahkan tuntutan kegiatan
interen dan eksteren lembaga pendidikan demi melayani bermacam kepentingan
seperti urusan rutin, dinas, bekerja harus selalu di bawah petunjuk atau
pedoman kerja yang ditetapkan oleh birokrasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan
eksternal organisasi yang terus berubah, sehingga proses pengambilan keputusan
seringkali tidak maksimal dalam menghasilkan keputusan-keputusan strategis.
Akibatnya persoalan aktual lembaga pendidikan yang dihadapi tidak dapat
terselesaikan secara maksimal.
Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap lingkungan
eksternal dan internal lembaga pendidikan memungkinkan para pengelola
pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang yang ada untuk dapat
merumuskan dan mengimplementasikan berbagai rencana pendidikan secara berhasil.
Rancangan yang bersifat menyeluruh ini dapat dilakukan melalui proses tindakan
yang dikenal sebagai manajemen strategik.[1]
B. Rumusan Masalah
1 Bagaimanakah perumusan sasaran jangka panjang ?
2 Bagaimakah penentuan strategi induk?
C. Pembahasan
1. Penentuan
Sasaran jangka panjang
Menurut syaifudin sagala terdapat lima langkah formulasi strategi, yaitu (1)
perumusan misi (mision determination) yaitu pencitraan bagaimana sekolah
seharusnya bereksitensi, (2) asesmen lingkungan eksternal (environmental
external assessment) yaitu mengakomodasikan kebutuhan lingkungan akan mutu
pendidikan yang dapat disediakan oleh sekolah; (3) asesmen organisasi (organization
assesment) yaitu merumuskan dan mendayagunakan sumber daya sekolah secara
optimal; (4) perumusan tujuan khusus (objective setting) yaitu
penjabaran dari pencapaian misi sekolah yang ditampakkan dalam tujuan sekolah
dan tujuan tiap-tiap mata pelajaran; dan (5) penentuan strategi (strategi
setting) yaitu memilih strategi paling tepat untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan dengan menyediakan anggaran, sarana dan prasarana, maupun fasilitass
yang dibutuhkan untuk itu.[2]
![]() |
Sekolah sebagai salah satu lembaga
pendidikan yang diberikan tugas untuk mewujdkan tujuan pendidikan nasional
harus menjalankan perannya dengan baik. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga
pendidikan ini, sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan
pendidikan yang telah dirumuskan dengan optimal. Pengelolaan sekolah yang tidak
profesional dapat menghambat proses pendidikan
yang sedang berlangsung dan dapat menghambat langkah sekolah dalam menjalankan
fungsinya sebagai lembaga pendidian formal.
Agar pengelolaan sekolah
tersebut dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan rencana strategis sebagai suatu
upaya/cara untuk mengendalikan organisasi (sekolah) secara efektif dan efisien,
sampai kepada kepada implementasi garis terdepan, sedemikian rupa sehingga
tujuan dan sasarannya tercapai. Perencanaan strategis
merupakan landasan bagi sekolah dalam menjalankan proses pendidikan. Komponen
dalam perencanaan strategis paling tidak terdiri dari visi, misi, tujuan,
sasaran dan strategi (cara mencapai tujuan dan sasaran). Perumusan terhadap
visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi tersebut harus dilakukan pengelola
sekolah, agar sekolah memiliki arah kebijakan yang dapat menunjang tercapainya
tujuan yang diharapkan.[3]
Berbicara mengenai sasaran
berarti membicarakan mengenai tujuan yang telah ditetapkan dan akan dicapai.
Tujuan organisasi menurut Etzioni mencakup beberapa fungsi di antaranya
memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan masa akan datang yang
senantiasa berusaha dikejar dan diwujudkan oleh organisasi. Etizioni
selanjutnya menegaskan bahwa tujuan organisasi adalah keadaan yang dikehendaki
pada masa akan datang yang senantiasa dikejar organisasi agar direalisasikan[4].
Liang Gie menyatakan tujuan organisasi menentukan bidang kerja, terutama
mengenai macam serta volume pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.
Bidang kerja itu selanjutnya akan menentukan tenaga kerja (SDM) yang diperlukan
yaitu mengenai banyaknya (kuantitas), persyaratannya (kualitas), dan
kesehatannya.[5] Bidang
kerja juga menentukan jumlah dan jenis fasilitas yang diperlukan dalam
organisasi yang berpangkal pada tujuan sekolah. Tujuan adalah adanya
kesepakatan umum mengenai misi sekolah dan sumber legitiminasi yang membenarkan
setiap kegiatan sekolah, serta eksistensi (keberadaan aktual) sekolah itu
sendiri. Selain tujuan berfungsi sebagai patokan yang dapat digunakan seluruh
personal sekolah maupun kalangan luar untuk manilai keberhasilan sekolah,
misalnya mengenai efektifitas mapupun efisiensi. Tujuan sekoah juga berfungsi
sebagai tolok ukur bagi para ilmuwan bidang organisasi guna mengetahui seberapa
suatu organisasi sekolah berjalan secara baik. Tujuan dalam organisasi sekolah
menciptakan sejumlah pedoman bagi landasan kegiatan sekolah yang menggambarkan
keadaan masa datang.
Berbagai cara teknis penentuan
tujuan organisasi, seperti penentuan tujuan secara formal melalui pemungutan
suara, yang mungkin dapat ditetapkan oleh beberapa pimpinan sekolah, atau
ditetapakan sendiri oleh individu yang memiliki dan mengelola organisasi, dan
sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa tujuan sekolah dilihat dari
sudut manjemen strategic adalah memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan
keadaan masa akan datang yang menghasilkan kesepakatan umum merupakan sumber
legitmasi yang membenarkan setiap kegiatan sekolah mengenai misi dalam
menentukan bidang kerja, macam dan volume pekerjaan yang harus dilakukan dan
menantiasa berusaha dikejar dan diwujudkan oleh sekolah, serta eksistensi
sekolah itu sendiri.[6]
Adapun arti tujuan jangka
panjang adalah sasaran jangka panjang yang ditentukan sebagai hasil akhir
spesifik yang ingin dicapai sebuah organisasi dengan melakukan misi. Jangka
panjang berarti lebih dari satu tahun. Sasaran perlu untuk keberhasilan organisasi karena menyatakan arah,
membantu dalam evaluasi, menciptakan sinergi, mengungkapkan prioritas,
memfokuskan koordinasi, dan menyediakan dasar untuk perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan aktivitas secara efektif. Sasaran
harus menantang, dapat diukur, konsisten, pantas, dan jelas.[7]
Sasaran jangka panjang ini juga dapat berfungsi
sebagai tolok ukur keberhasilan sekolah, adapun kriteria yang digunakan sebagai
pengukur keberhasilan adalah sebagai berikut:
a. Akseptabilitas
Manajemen
yang bertanggung jawab akan berupaya mengelola perusahaan yang dipimpinnya
berdasarkan norma-norma moralitas dan etika yang berlaku. Berarti sasaran
jangka panjang yang ditetapkan dapat diterima oleh berbagai pihak karena
didasarkan pada norma-norma yang dimaksud.
b. Fleksibilitas
Kenyataan
dan pengalaman menunjukkan bahwa selalu
terjadi perubahan dalam lingkungan suatu perusahaan. Betapapun cermatnya para
pengambil keputusan stratejik melakukan estimasi dan prakiraan tentang
factor-faktor eksternal yang akan berpengaruh terhadap jalannya roda
organisasi, kemungkinan untuk timbulnya faktor-faktor yang tidak dapat atau
bahkan tidak mungkin diperhitungkan sebelumnya selalu saja ada.
c. Dapat
diukur
Sasaran
yang ingin dicapai hendaknya dinyatakan dengan jelas dan konkret. Kejelasan
yang dimaksud tidak hanya dalam arti jumlah sasaran tersebut yang sedapat
mungkin dinyatakan secara kuantitatif, akan tetapi juga batas kurun waktu dalam
mana sasaran diharapkan tercapai dan dengan pemenuhan standar mutu yang
bagaimana. Bagi para pelaksana kegiatan operasional kejelasan tersebut sangat
penting bukan hanya dalam arti menghilangkan keragu-raguan tentang apa yang
harus dicapai dalam kurun waktu tertentu di masa depan, akan tetapi juga
mencegah timbulnya salah pengertian dalam mengukur kinerja para pelaksana
kegiatan operasional tersebut.
d. Kriteria
kesesuaian
Yang
dimaksud dengan kesesuaian adalah bahwa sasaran jangka panjang harus digali dan
merupakan rincian misi perusahaan dan misi merupakan rincian dari
kegiatan-kegiatan utama yang harus diselenggarakan dalam rangka pencapaian
tujuan akhir. Dengan menggunakan pendekatan demikian, maka berbagai pihak dalam
menjalankan fungsinya bekerja atas dasar pemikiran relevansi yang berarti bahwa
apapun yang terjadi dalam organisasi selalu relevan dengan misi yang harus
diemban dan relevan tujuan yang harus dicapai.
Sasaran
jangka panjang ini juga bertujuan untuk meciptakan sekolah unggulan atau
sekolah yang kompetitif, adapun syarat-syarat menjadi sekolah kompetitif adalah
sebagai berikut:
1. Kepemimpinan Kepala Sekolah yang
Profesional.
Kepala Sekolah seharusnya memiliki
kemampuan pemahaman dan pemahaman yang menonjol. Dari beberapa penelitian,
tidak didapati sekolah yang maju namun dengan kepala sekolah yang bermutu
rendah.
2.
Guru-guru
yang tangguh dan professional
Guru
merupakan ujung tombak kegiatan sekolah karena berhadapan langsung dengan
siswa. Guru yang profesional mampu mewujudkan harapan-harapan orang tua dan
kepala sekolah dalam kegiatan sehari-hari di dalam kelas.
3.
Memiliki
tujuan pencapaian filosofis yang jelas
Tujuan filosofis diwujudkan dalam
bentuk Visi dan Misi seluruh kegiatan sekolah. Tidak hanya itu, visi dan misi
dapat di cerna dan dilaksanakan secara bersama oleh setiap elemen
sekolah.
4.
Lingkungan
yang kondusif untuk pembelajaran
Lingkungan yang kondusif bukanlah hanya
ruang kelas dengan berbagai fasilitas mewah, lingkungan tersebut bisa berada di
tengah sawah, di bawah pohon atau di dalam gerbong kereta api. Yang jelas
lingkungan yang kondusif adalah yang lingkungan yang dapat memberikan dimensi
pemahaman secara menyeluruh bagi siswa
5.
Jaringan
organisasi yang baik
Jelas, organisasi yang baik dan solid
baik itu organisasi guru, orang tua akan menambah wawasan dan kemampuan tiap
anggotanya untuk belajar dan terus berkembang. Serta perlu pula dialog antar
organisasi tersebut, misalnya forum Orang Tua Murid dengan forum guru dalam
menjelaskan harapan dari guru dan kenyataan yang dialami guru di kelas.
6. Kurikulum yang jelas
Permasalahan di Indonesia adalah
kurikulum yang sentralistik dimana Diknas membuat kurikulum dan dilaksanakan
secara nasional. Dengan hanya memuat 20% muatan lokal menjadikan potensi daerah
dan kemampuan mengajar guru dan belajar siswa terpasung. Selain itu pola
evaluasi yang juga sentralistik menjadikan daerah semakin tenggelam dalam
kekayaan potensi dan budayanya.
7.
Evaluasi
belajar yang baik berdasarkan acuan patokan untuk mengetahui apakah tujuan
pembelajaran dari kurikulum sudah tercapai
Bila kurikulum sudah tertata rapi dan
jelas, akan dapat teridentivikasi dan dapat terukur targer pencapaian
pembelajaran sehingga evaluasi belajar yang diadakan mampu mempetakan kemampuan
siswa.
8.
Partisipasi
orang tua murid yang aktif dalam kegiatan sekolah.
Di sekolah unggulan dimanapun, selalu
melibatkan orang tua dalam kegiatannya. Kontribusi yang paling minimal sekali
adalah memberikan pengawasan secara sukarela kepada siswa pada saat istirahat.
Pada proses yang intensif, orang tua dilibatkan dalam proses penyusunan
kurikulum sekolah sehingga orang tua memiliki tanggung jawab yang sama di rumah
dalam mendidik anak sesuai pada tujuan yang telah dirumuskan. Sehingga terjalin
sinkronisasi antara pola pendidikan di sekolah dengan pola pendidikan di rumah.[8]
2. Contoh Rumusan Jangka Panjang yang
diterapkan oleh sekolah
a.
Bidang
Kelembagaan dan Sarana
·
Pengembangan
dan penyempurnaan administrasi siswa, keuangan, dan inventaris dengan
menggunakan sistem informasi terpadu.
·
Mengembangkan
dan melengkapi fasilitas gedung dan sarana belajar.
·
Memberdayakan
ruang Laboratorium IPA, Bhs, dan Komputer serta tertata dengan baik.
·
Mengembangkan
ruang Laboratorium IPA, Bhs, dan Komputer dan pengadaan ruang laboratorium
untuk IPS, Matematika dan Agama.
·
Penambahan dan
pemeliharaan slogan dan kata-kata hikmah yang bernuansa Islami di semua ruang.
·
Menjaga dan
memelihara semua ruangan yang ada.
·
Menata
keindahan,kerindangan,kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah.
·
Memelihara
pagar dan benteng
·
Memelihara
tempat parkir motor.
·
Memelihara
dapur sekolah.
·
Memelihara
ruangan WC guru dan WC siswa.
b.
Ketenagaan
·
Implementasi
nilai-nilai Agama dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kemasyarakatan.
·
Optimalisasi
peranan guru dalam pengembangan sekolah.
·
Menjadikan
Multimedia sebagai media pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran.
·
Mengadakan
studi banding ke sekolah lain yang dekat yang dianggap sudah lebih maju dan
berkualitas.
·
Pengawasan dan
evaluasi terhadap kinerja guru melalui supervisi dan kunjungan kelas.
c.
Kurikulum
·
Mengoptimalkan
98% kehadiran guru dalam PBM.
·
Mengikutsertakan
siswa pada lomba (Olimpiade) mata pelajaran tingkat propinsi.
·
Mengadakan
Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMK) untuk semua mata pelajaran.
·
Mengupayakan
peningkatan rata- rata nilai ujian nasional (UN) 8,25 dan nilai rata-rata ujian
sekolah 8,05.
·
Mempertahankan
dan meningkatkan kualitas kelulusan 100% siswa kelas III.
·
Meningkatkan
kuantitas lulusan yang diterima di SMU/SMK/MA mendekati 100%
·
98% siswa
lancar membaca Al-Quran
·
75% siswa hafal
juz Amma.
·
100% siswa
melaksanakan shalat berjamaah.
d.
Bidang Kesiswaan
·
Menjaga
konstanitas jumlah rombel dan siswa.
·
Memiliki tim
cabang olah raga bola voli, basket dan futsal untuk kejuaraan tingkat provinsi
dan nasional.
·
Memiliki tim
kesenian daerah dan nasionaluntuk kejuaraan tingkat provinsi dan nasional.
·
Memiliki
kelompok ilmiah remaja untuk kejuaraan tingkat provinsi dan nasional.
·
Memiliki
peserta didik ahli berpidato bahasa daerah, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris
untuk kejuaraan tingkat provinsi dan nasional.
·
Memiliki
peserta didik yang ahli dalam berceritera (story telling) baik dalam
bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
·
Memiliki regu
paskibraka yang selalu siap untuk segala keperluan upacara.
·
Memiliki tim
P3K dan dokter sekolah yang selalu siap.
·
Memiliki
pangkalan kepramukaan yang aktif.
·
Memiliki tim
pencinta alam yang aktif.
e.
Bidang Humas
·
Mensosialisasikan
Sekolah secara nasional.
·
Menjalin
kerjasama dengan pihak luar dalam kerangka pengembangan sekolah.
·
Mengoptimalkan
pemanfaatan pusat informasi dan pengolahan data (PUSINLAHTA) dan internet.
·
Mempertahankan
kelangsungan unit-unit usaha dalam kerangka menggali sumber dana untuk
pengembangan sekolah.[9]
3. Penentuan Strategi Induk
Strategi adalah sebuah rencana
yang komprehensif mengintegrasikan segala resources dan capabilities
yang mempunyai tujuan jangka panjang untuk memenangkan kompetisi. Menurut Gaffar strategi adalah rencana yang mengandung cara
komprehensif dan integratif yang dapat dijadikan pegangan untuk bekerja,
berjuang dan berbuat guna memenangkan kompetisi. Secara historis konsep strategi memang
berasal dari militer, seperti yang diungkap Von Noumon dan Mogernstern dalam
tulisannya “The Theory of Games” yang mengandung teori dan konsep
strategi.dari sinilah konsep tersebut diaplikasikan ke dalam dunia bisnis dan
dunia kehidupan lannya seperti politik. Thomas Schelling mengembangkan studi
dengan judul “The Strategi of Conflict” yang mengungkapkan berbagai
unsur strategi yang umum ditemui dalam berbagai aspek kehidupan dalam situasi competitive.
Unsur-unsur umum ini adalah prinsip-prinsip dalam bargaining, threats,
mutual distrust, dan balance antara kerjasama dan conflict.
Dalam perkembangan selanjutnya terutama dalam era globalisasi. Strategi
merupakan instrumen manajemen yang ampuh dan tidak dapat dihindari, tidak hanya
untuk survival dan memenangkan persaingan tetapi juga untuk tumbuh dan
berkembang.[10]
Oleh karena strategi merupakan
instrumen manajemen yang ampuh dan tidak dapat dihindari termasuk dalam
managemen sekolah. Strategi sekolah menjelaskan metode dan pendekatan yang
digunakan untuk mencapai tujuan strategiknya. Langkah ini dalam proses
manajemen strategik sekolah mencakup identitas piliha-pilihan strategik yang
mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tujuan sekolah.[11]
Para pakar menggunakan berbagai istilah untuk
strategi induk seperti “grand strategy” atau “master strategi”
atau “business strategy” dalam bahasa inggris pada dasarnya yang
dimaksud ialah suatu pendekatan umum yang bersifat komprehensif atau menyeluruh
yang berperan sebagai penuntun kegiatan umum suatu organisasi dalam rangka
pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya.[12]
4. Fungsi Strategi Induk
Dalam kaitan ini kiranya menarik dan relevan untuk
menekankan bahwa perumusan strategi induk sesungguhnya merupakan salah satu
bentuk pengambilan keputusan sebagai suatu metode untuk memecahkan
permasalahaan yang dihadapi oleh suatu organisasi, dalam hal ini suatu
perusahaan. Dalam teori pengambilan keputusan sebagai pemecahan
masalah terdapat tujuh langkah yang biasanya diambil yaitu :
a.
Mengidefinisikan hakikat permasalahan yang dihadapi dan mengundang
pemecahan
b.
Mengumpulkan data yang relevan
c.
Menganalisis data
d.
Menentukan berbagai alternative yang mungkin
ditempuh
e.
Menganalisis berbagai altenatif
f.
Memilih salah satu alternatif
g.
Pelaksanaan keputusan
h.
Evaluasi hasil pelaksanaan
Definisi Permasalahan yang Dihadapi. Ditinjau dari segi strategi
perusahaan, yang dimaksud dengan “permasalahan” ialah menentukan posisi
perusahaan di masa kini dan di masa akan datang dalam memproduksi barang atau
jasa sehingga perusahaan yang bersangkutan mampu bersaing dengan pesaing lain
yang memasarkan produk sekaligus mampu bertumbuh dan berkembang dalam kondisi
lingkungan eksternal.
Pengumpulan Data. Teori
pengambilan keputusan menekankan bahwa proses pengambilan keputusan memerlukan
“bahan pendukung” yang disebut data. Berbagai data yang diperlukan dalam
pengambilan keputusan menyangkut jenis-jenis proses yang terjadi dalam
perusahaan, seperti proses manajerial, proses fungsional, proses teknis dan
bahkan proses operasional.
Analisis Data. Data hanya
merupakan bahan baku yang masih harus diolah sehingga berubah sifatnya menjadi
informasi karena informasilah yang memiliki nilai intrinsik dimaksud. Informasi
yang bermutu tinggi dan bermanfaat sebagai pendukung pengambilan keputusan
harus memiliki berbagai ciri seperti :
- Kemutakhiran
- Relevansi
- Kelengkapan
- Dapat dipercaya
Disimpan sedemikian rupa sehingga mudah ditelusuri
apabila tiba waktunya untuk digunakan
Penentuan Berbagai Alternatif. Untuk menentukan beberapa jumlah alternatif yang sebaiknya dipilih dan
dianalisis, para pakar mengetengahkan pendekatan sebagai berikut :
- Jika permasalahan yang dihadapi bersifat repetitif
- Jika permasalahan yang dihadapi menyangkut segi-segi teknis dan operasional
- Sebaliknya, jika permasalahan yang dihadapi merupakan permasalahan yang baru pertama kali timbul dan belum pernah dialami sebelumnya
Jika permasalahan yang dihadapi bukan merupakan
akibat goncangan yang terjadi pada
lingkungan
Analisis Berbagai Alternatif. Pemilihan berbagai alternatif yang mungkin ditempuh dilaksanakan, dapat
dinyatakan bahwa setiap alternatif terpilih memiliki “kekuatan” dan “kelemahan”
sendiri yang juga perlu dikenali secara benar.
Pemilihan Salah Satu Alternatif. Dalam kaitan ini harus ditekankan bahwa pilihan dijatuhkan pada
alternatif yang kelihatannya terbaik. Penekanan ini sangat penting dalam proses
pengambilan keputusan.
Pelaksanaan Keputusan. Tepat tidaknya keputusan yang diambil “diuji” pada waktu dilaksanakan.
Kriteria dasarnya harus dikaitkan dengan maksud dan tujuan diambilnya keputusan
tersebut.
Evaluasi hasil
pelaksanan. Setiap keputusan yang diambil pada hakikatnya
bersifat tentatif, artinya manajemen perlun melakukan penilaian apakah
keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat atau tidak. Pengambilan
keputusan perlu melakukan peninjauan ulang yang terbagi atas 2 faktor, yaitu:
a.
Faktor
Psikologis, dalam arti “takut kehilangan muka” jika harus meninjau kembali
sesuatu keputusan yang pernah diambilnya,
b.
Ketakutan bahwa
tindakan seperti itu akan diinterpretasikan oleh berbagai pihak sebagai cermin
ketidakmampuan manajer yang bersangkutan.[13]
D. Simpulan
Tujuan jangka panjang adalah sasaran jangka panjang
yang ditentukan sebagai hasil akhir spesifik yang ingin dicapai sebuah
organisasi dengan melakukan misi. Jangka panjang berarti lebih dari satu tahun.
Sasaran perlu untuk keberhasilan organisasi
karena menyatakan arah, membantu dalam evaluasi, menciptakan sinergi,
mengungkapkan prioritas, memfokuskan koordinasi, dan menyediakan dasar untuk
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan aktivitas secara
efektif. Sasaran harus menantang, dapat diukur, konsisten, pantas, dan jelas.
Strategi adalah sebuah rencana
yang komprehensif mengintegrasikan segala resources dan capabilities
yang mempunyai tujuan jangka panjang untuk memenangkan kompetisi.
UNTUK FILE MAKALAH FORMAT "DOC" LENGKAP REFERENSI DAPAT DIDOWNLOAD DI SINI


minta donk tentang perusahaan strategik induk dan sasaran jangka panajng
BalasHapus