tulisan terakhir

Pages

Minggu, 08 November 2015

SUPERVISI UNTUK GURU AGAMA ISLAM


Menurut Dadang Suhardan (2006:28), supervisi adalah pengawasan profesional yang dijalankan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Oleh karena itu Pengawas satuan Pendidikan tidak dapat dilakukan oleh sembarangan pengawas apalagi oleh orang yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu, tetapi harus dijalankan oleh orang yang sesuai keahliannya. Termasuk di dalamnya adalah pengawas pendidikan agam islam, pengawas pendidikan agama Islam adalah salah satu tenaga kependidikan. Keberadaannya sangat diharapkan bagi guru, dalam rangka membantu dan mengarahkan guru kearah meningkatnya kualitas pembelajaran guru mata pembelajaran, khususnya  mata pelajaran agama Islam di lingkungan Departemen Agama. Kerjasama yang kooperatif antara pengawas pendidikan agama islam dengan guru mata pelajaran mutlak diperlukan agar tujuan pendidikan di sekolah yang bersangkutandapat terwujud dengan baik. Bagaimanapun, dibutuhkan hubungan yang sinergis dan kontinyu antara pengawas dan guru sehingga berbagai kegiatan dalam upaya memajukan prestasi siswa atau kemajuan sekolah dapat dilakukan.

Supervisi dalam Pembelajaran PAI
Menurut Rustiah (1987:42) Dalam rangka merelalisasikan kurikulum di sekolah, tugas kepala sekolah adalah membantu guru meningkatkan kemampuannya dalam mengajar. Berpijak dari hal itu, komponen-komponen yang perlu ditingkatkan terhadap profesi mengajar adalah:
1.    Identifikasi kemampuan dan kelemahan guru yang disupervisi
2.    Bantuan kepada guru untuk meningkatkan kemampuannya.
3.    Bimbingan kepada guru bagaima menerapkan kepampuannya yang tidak ditingkatkan itu, agar proses belajar siswa turut meningkat pula.
Menurut saekhan muchith (2008:179) Pembelajaran PAI memiliki target yang cukup luas dan berat, Karena menyangkut pembentukan kualitas siswa tidak hanya kualitas kognitif (kemampuan intelektual) tetapi juga kualitas afektif (kemampuan moral kepribadian). Membentuk moral kepribadian perlu proses dan langkah-langkah yang rutin dan memerlukan waktu cukup lama. Indikasi kualitas moral tidak hanya ditandai dengan tingginya nilai hasil belajar (raport), tetapi lebih dilihat dari nilai kualitas realitas perilaku dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian diperlukan pembinaan (supervisi) secara lebih khusus yang berbeda dengan pemberian supervisi pembelajaran selain pembelajaran PAI.
Suharsimi Arikunto dalam buku administrasi dan supervisi pendidikan sebagaimana dikutip saekhan Muchith (2008:179), menjelaskan bahwa pelaksanaan supervisi terlebih dahulu dilandasi oleh asumsi sebagai berikut:
1.    Peningkatan kualitas pembelajaran hanya dapat dilakukan oleh guru itu sendiri, orang lain tidak akan mampu mengembangkan kualitas seorang guru jika guru itu sendiri tidak ada keinginan untuk berubah.
2.    Guru harus diberikan kebebasan untuk melakukan perubahan dan peningkatan kemampuan dirinya, serta diberikan kebebsan untuk melakukan kreativitas dalam mengajar sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh guru.
3.    Setiap perubahan dalam diri guru pasti memerlukan dorongan atau stimulus baik secara moral maupun intelektual.
4.    Peningkatan pembelajaran akan lebih berhasil jika dilakukan tidak dengan cara memaksa, mencekam, mengancam (intimidasi). Sebaliknya dilakukan dengan cara santai, menyenangkan, bersifat kekeluargaan.
Pembelajaran PAI harus dilakukan dengan asumsi tersebut karena pembelajaran PAI menyangkut berbagai aspek atau ranah taxomoni, justru yang sangat penting bahwa dalam pembelajaran PAI harus menggunakan asumsi nomor 4, yaitu dilakukan dengan cara menyenangkan, santai, penuh kekeluargaaan. Jika supervisi dilaksanakan dengan cara mencekam, menakutkan dan diwarnai intimidasi maka proses peningkatan guru akan sia-sia. Sebagamana diterangkan oleh H. M. Daryanto (1998 : 172) supervisi pada zaman dahulu hanyalah untuk membagi hadiah kepada karyawan sekolah yang taat melaksanakan perintah dari pusat, dan untuk mencari kesalahan para karyawan, yang kemudian memperoleh hukuman. Supervisor pada masa itu dinamakan inspektur. Usaha pembimbingan dan memberi nasehat guna kesempurnaan pelaksanaan tugas tidak ada. Karena itu suasana kepegawaian adalah dtertekan dan takut. Tidak ada kegembiraaan  bekerja, kerena semua karyawan dihinggapi rasa kuatir mendapat kondite buruk apabila sekonyong-konyong ada penilikan.

Prinsip-prinsip Supervisi Pembelajaran Agama Islam
Untuk mencapai harapan kemajuan pembelajaran supervisi harus didasarkan atas beberapa prinsip, menurut Suryosubroto (dalam Kisbyanto 2004:10)
1.    Ilmiah (scientific) yang berarti harus sistematis yaitu dilaksanakan secara teratur, berprogram dan kontinu, obyektif yaitu berdasar pada data dan informasi, menggunakan instrument yang dapat memberi data atau informasi sebagai bahan untuk mengadakan penilaian terhadap prposes pembelajaran.
2.    Demokratis, yaitu menjunjung tinggi asas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
3.    Kooperatif, yaitu mengenbangkan usaha bersama untuk menciptakan situasi pembelajaran yang lebih baik.
4.    Konstruktif dan kreatif yaitu membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif menciptakan situasi pembelajaran yang lebih baik.
Selain prinsip yang telah disebutkan di atas menurut Saekhan Muciht (2008 : 180), supervisi juga harus memenuhi prinsip sebagai berikut:
1.    Supervisi dilakukan secara terbuka, tidak sembunyi atau disembunyikan, artinya jika akan melaksanakan supervisi harus memberi tahukan terlebih dahulu. Pemberitahuan bermakna memberikan kesiapan baik secara fisik maupun mental.
2.    Supervisi didasarkan atas prinsip komprehenshif, yaitu didasarkan atas berbagai unsur, tidak hanya menyangkut kemampuan guru tetapi semua elemen yang ada dalam pendidikan khususnya yang terkait dengan proses pembelajaran harus dilakukan supervisi,
Masih menurut saekhan muchith (2008:180), supervisi pebelajaran PAI harus berdasarkan semua prinsip di atas bahkan harus ditambah lagi yaitu prinsip spiritual, jabatan atau tugas supervisi tidak semata-mata menjalankan tugas secara birokrasi melainkan ada nuansa nilai-nilai Ilahiyah (ibadah). Sehingga dalam prakteknya akan ada kesetaraan antara supervisor dan supervisee dalam setiap aktifitasnya merasa dilihat dan dipantau oleh Allah swt, hal ini akan membawa implikasi kepada kejujuran dan keadilan.


Pendekatan Supervisi Pembelajaran Agama Islam
Glickman dalam buku “development of Supervison : alternative practice of help teachers improve instruction”, bahwa supervisi perlu dilakukan dengan pendekatan non derective, collaborative, directive.
Dalam realitasnya ketiga pendekatan tersebut tidak dapat berjalan ekterim (parsial), tetapi lebih dilaksanakan secara komprehensif (bersama-sama). Supervisi pembelajaran PAI disamping ketiga pendekatan, perlu melakukan pendekatan yaitu pendekatan relegius. Yaitu proses pemberian bantuan ntuk menyelesaikan persoalan guru dilakukan dengan cara memaknai atau mengambil nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam (al Qur’an dan Hadits). Oleh sebab itu sebagai seorang supervisor yang melaksanakan aktifitas supervisinya dalam pembelajaran PAI harus mengetahui dan memahami pesan atau nilai yang ada dalam al Qur’an dan Hadits.
Curtis R Finch dalam buku “administering and Supervising occupational education” , menjelaskan bahwa masing-masing pendekatan dalam supervisi ada beberapa tehnik yang harus dilaksanakan oleh seorang supervisor.
Pendekatan non directive mempunyai tekhnik, listening, clarifying, encouraging, presenting. Pendekatan collaborative mempunyai tekhnik problem solving, negotiating, demonstrating, dan directing. Pendekatan directive memiliki tekhnik standardizing, reinforcing. Dalam supervise pembelajaran PAI lebih tepat menggunakan pendekatan Collaborative, hal itu didasarkan pada dua alasan.
Pertama, muatan materi PAI lebih banyak muatan materi yang lebih tepat didiskusikan antara supervisor dengan supervisee. Karena materi PAI lebih banyak mengandung masalah yang menyangkut ibadah, aqidah, dan hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan sang pencipta.
Kedua, materi PAI harus lebih selalu mengikuti dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena materi PAI mutlaq perlu merespon dinamika dan perkembangan IPTEK. Untuk memenuhi harapan tersebut maka model supervisinya harus lebih banyak memberi peluang untuk berdialog secara bebas antara supervisor dengan supervisee.
Secara lebih rinci model supervisi dalam pembelajaran PAI perlu dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
Pertama, dilakukan dengan kunjungan kelas atau observasi kelas (class visit). Tujuan class visit antara lain (a). memperoleh data tentang bagaimana tentang sikap dan perilaku guru dalam melakukan proses pembelajaran khususnya bagaimana merumuskan kompetensi dalam materi PAI (b).  untuk memperoleh kemampuan guru dalam melakukan penyampaian materi pembelajaran PAI yang bernuansa ranah kognitif dan afektif secara berimbang. (c) untuk memperoleh data tentang kekurangan dan kelemahan guru yang dianggap sebagai kebutuhan guru membutuhkan bantuah pelayanan dan bantuan dalam pembelajaran (d). untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan guru melaksanakan atau menerapkan teknik-teknik pembelajaran sebagai tindak lanjut kegiatan supervise.
Kedua, personal meeting atau individual conference, atau ada yang menyebut individual conference adalah pertemuan untuk tukar pandangan atau dialog antara dua orang untuk menemuakan jalan penyelesaian masalah yang dimiliki guru, agar permasalahan benar-benar dapat ditemukan solusi penyelesaiannya. (b) untuk memperoleh kesamaan pandangan atau konsep dalam menyelesaikan permasalahan antara guru dan supervisor. (c) untuk melatih agar guru mempunyai kemandirian dalam menemukan problemnya sendiri, serta memiliki kemampuan untuk menyelesaikan problem pembelajaran secara independent dan terbuka.
Ketiga, staffing conference atau Staffing meeting atau ada yang menyebut teacher meeting adalah bentuk supervise yang dilakukan dengan cara pertemuan antara guru-guru dengan supervisor dalam rangka membahas berbagai permasalahan yang dimiliki para guru dalam pembelajaran. Staff meeting dilakukan dengan cara antara lain (a). rapat stimulating Growth yaitu menumbuhkan dan mengembangkan aspek yang berkaitan dengan usaha menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan perofesional guru bagi tercapainya efektifitas program. (b). rapat problem solving yaitu rapat unuk membahas dan memecahkan masalah kesulitan proses belajar mengajar yang dialami  oleh guru (c). problem oriented, yaitu rapat untuk mengenalkan masalah-masalah baru yang tumbuh sebagai akibat dari inovasi pendidikan dan untuk menetapkan cara-cara pedoman pelaksanaan (Saekhan Muchith 2008: 180-182).

DOWNLOAD FILE MAKALAH DI ATAS DENGAH FORMAT "DOC" DAN DISERTAI SUMBER REFERENSI DI SINI

masukkan email untuk mendapatkan tutorial gratis langsung dikirim ke email anda:

Delivered by FeedBurner

0 komentar:

Posting Komentar