tulisan terakhir

Pages

Rabu, 11 November 2015

ISU-ISU KONTEMPORER DALAM STUDI ISLAM IV - ISLAM DAN KAPITALISME



Abstrak
Ekonomi pasar dengan watak kompetensinya telah mendorong kapitalisme yang sejak awal perkembangannya selalu melakukan ekspansi baik secara internal maupun eksternal. Dampak adanya ekspansi ekonomi pasar tersebut telah membawa perubahan dalam skala ekonomi dunia dan juga membawa perubahan pada dunia ketiga (dunia yang sedang berkembang), yaitu dengan membanjirnya produk ekonomi, seperti; meningkatnya imigrasi sebagai dampak dari kegiatan ekonomi, berkembang pesatnya teknologi, khususnya di bidang informasi, elektronika, komunikasi dan bio-teknologi serta berhasilnya kampanye internasional untuk mengglobalisasikan pembangunan kapitalisme dalam bidang ekonomi. Menghadapi tantangan tersebut, Islam merespon dengan memberikan tanggapan bahwa Islam tidak membenarkan adanya kelas-kelas masyarakat dan mencegah pemusatan kekayaan hanya di kalangan kelompok kecil orang kaya sebagaimana yang ada dalam kapitalisme. Islam menawarkan pola ekonomi yang bertolak dari ajaran-ajaran tentang pemenuhan kebutuhan, kepentingan, kerja sama, saling tolong menolong, tidak bertolak dari perjuangan dan perlawanan antar kelas masyarakat.
Kata kunci: ekonomi, kapitalisme, Islam
     I.     Latar Belakang Masalah
Sebuah keniscayaan bahwa manusia dalam kehidupan di dunia ini pasti tidak akan pernah lepas dari kehidupan berekonomi. Manusia membutuhkan makanan yang harus mereka konsumsi untuk bisa bertahan hidup, makanan yang manusia makan juga harus didistribusikan dari para produsen sehingga sampai pada konsumen yang membutuhkan. produksi, distribudi, dan konsumsi menjadi kegiatan inti dari ekonomi yang pasti dilakukan manusia demi memnuhi kebutuhannya. Dalam mendukung lancarnya itu semua diperlukan sistem yang mengatur kegiatan ekonomi sehingga mampu menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Tentu saja setiap masyarakat, negara dan bangsa mempunyai kultur atau latar belakang yang  berbeda-beda sehingga dalam mengatur kegiatan ekonominya juga memiliki sistem yang berbeda-beda meskipun ada juga yang menggunakan sistem yang sama sesuai dengan keadaan lingkungan di mana sistem ini akan digunakan.
Dalam ekonomi terdapat berbagai macam sistem yang merupakan hasil dari kemampuan untuk menginterpretasikan yang berbeda-beda sesuai dengan kultur dan lingkungan yang mempengaruhi cara berpikir untuk menemukan sebuah sistem. Kehidupan berekonomi juga tak lepas dari berbagai masalah yang terus menghantui seperti pengentasan kemiskinan, menyediakan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan dasar setiap individu, pemerataan distribusi pendapatan dan kesejahteraan.
Ini mendorong masyarakat membentuk sistem yang diharapkan nantinya mampu mengatasi atau mencegah terjadinya masalah-masalah yang disebutkan di atas. Sistem ekonomi dengan pusat perencanaan adalah negara, yang diklaim mampu untuk memenuhi tujuan pokok, tidak hanya gagal untuk mewujudkannya tetapi juga menghadapi krisis ekonomi yang serius, meyakinkan kegagalan sistem. Kemudian sistem ekonomi pasar menawarkan bahwa sistem[1] Perekonomian dunia yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, memiliki cerita sejarah yang panjang. Deretan tulisan yang menerangkannya pun tak akan habis dibaca, selalu ada bagian tertentu yang masih tersisa untuk dibuka dan dipahami.
Sistem perkonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara dalam memecahkan berbagai permasalahan ekonomi yang dialami oleh negara tersebut, misalnya pengalokasian sumber daya yang dimilikinya, pelaksanaan produksi, distribusi dan konsumsi  baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan yang mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah.
Salah satu sistem perekonomian yang ada didunia adalah sistem ekonomi kapitalis, yaitu sistem ekonomi dimana kekayaan produktif terutama dimiliki secara pribadi dan pruduksi terutama untuk penjualan. Tujuan dari pemilikan pribadi tersebut adalah untuk mendapatkan suatu keuntungan yang lumayan dari penggunaan kekayaan pruduktif.

  II.     Rumusan Masalah
Agar bahsan dalam makalah ini dapat fokus pada topik yang dibahas yaitu, isu-isu kontemporer dalam studi islam IV “Islam dan Kapitalisme” maka penulis  menyusun rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah sejarah kapitalisme?
2.    Bagaimanakah sikap Islam terhadap kapitalisme?
III.     Pembahasan
A.  Sejarah Kapitalisme
Secara garis besar, di dunia ini pernah dikenal dua macam sistem ekonomi, yakni: sistem ekonomi liberal atau kapitalis; sistem ekonomi sosialis.[2]
kapitalisme merupakan salah satu sistem ekonomi dengan asas pengembangan hak milik pribadi dan pemeliharaannya, dengan tujuan perluasan paham kebebasan (menentukan taraf hidup dan usaha). kapitalisme identik dengan globalisme dan globalisasi, dimana orang-orang yg memiliki kapital (kepemilikan modal dan alat produksi) dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.[3]
Untuk lebih mudah memahami bagaimanakah sistem kapitalisme itu, berikut ini beberapa pengertian dari kapitalisme.
1.    Kamus Bahasa Indonesia Kapitalisme adalah, Sistem dan paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas.[4]
2.    G.G. Wells; “Kapitalisme adalah Suatu yang tidak dapat didefinisikan, tapi pada umumnya kita menyebut sebagai sistem kapitalis, sesuatu yang kompleks kebiasaan tradisional, energi perolehan yang tak terkendalikan dan kesempatan jahat serta pemborosan hidup”.[5]
3.      Kata “kapital” dalam istilah “kapitalisme” berasal dari bahasa Latin, “caput” yang berarti “kepala”. Pada abad 12-13, istilah tersebut mulai berubah makna menjadi “dana”, “sejumlah uang”, “persediaan uang atau barang” berikut “bunga uang pinjaman”. Pada perkembangannya kemudian, kapitalisme pun diartikan sebagai paham yang menempatkan uang/modal di atas segala-galanya.[6]
4.      Mas’oed ; Kapitalisme berasal dari capital yang berarti modal, yang dimaksud modal adalah alat produksi seperti tanah, uang dan sebagainya. Kata isme berarti suatu paham atau ajaran.
Jadi arti kapitalisme adalah sistem dan paham ekonomi yg modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan di pasaran bebas.[7]
Setidaknya, terdapat enam versi sejarah kelahiran kapitalisme, antara lain sebagai berikut.
1.    Persinggungan antara Masyarakat Agraris dengan Agrikultur
Menurut beberapa pakar, kapitalisme telah eksis di era agrikultur. Perlu dijelaskan lebih jauh kiranya, masyarakat agraris adalah era di mana masyarakat mulai bercocok tanam namun belum mengenal teknologi penunjang seperti irigasi (pengairan). Dengan demikian, mereka sekedar bercocok tanam, dan ketika musim kemarau tiba, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berburu, belum mampu mengatasi tanaman yang kering akibat kemarau. Berbeda halnya dengan masyarakat agraris, masyarakat agrikultur telah mengenal teknologi penunjang bagi kegiatan bercocok tanamnya, sehingga ketika musim kemarau tiba, tak ada yang perlu mereka risaukan.
Para pakar meyakini bahwa ketika musim kemarau melanda masyarakat agraris, beberapa dari mereka diutus untuk menemui masyarakat negeri seberang yang tetap memiliki persediaan beras melimpah, mereka adalah masyarakat agrikultur. Sering, dalam transaksi yang dilakukan masyarakat agraris untuk mendapatkan beras dari masyarakat agrikultur, terjadi pertukaran yang tak seimbang dan merugikan masyarakat agraris. Kerap, satu hingga dua ekor rusa buruan sekedar ditukar dengan segenggam beras. Faktual, hal tersebut merupakan bentuk kapitalisme paling primitif di dunia.
2.    Etika Protestan
Max Weber, sosiolog asal Jerman, memiliki sudut pandang yang berbeda atas lahirnya kapitalisme dibanding para pakar lainnya. Ia mengidentifikasi kelahiran kapitalisme melalui etika (ajaran berperilaku) Protestan. Dalam eksemplarnya yang terkenal, The Protestan Ethic and Spirit Capitalism, Weber menjelaskan bahwa dahulu kala terdapat seorang pendeta Protestan bernama John Calvin yang menyerukan pada umatnya bahwa untuk beribadah kepada Tuhan mereka harus melakukan tiga hal, antara lain;
1.    Bekerja keras (bekerja adalah “panggilan” Tuhan)
2.    Berhemat dan bersedekah
3.    Mengutamakan rasionalitas (pertimbangan untung-rugi akan konsekuensi tindakan yang diambil).
Tak pelak, ketiga maklumat Calvin di atas mampu mentransformasi kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Eropa secara signifikan. “Siapapun yang mengamalkan ketiga butir nasehat Calvin, pastilah akan menjadi kaya”, komentar John Wesley. Lambat-laun, melalui aktualisasi etika Protestan, masyarakat Eropa yang tradisional pun mulai beranjak pada era masyarakat industri. Namun patut disayangkan, waktu demi waktu dimensi etika Protestan yang terkandung di dalamnya pun turut luntur bersama kemajuan yang dibawanya. Bagi Weber, apa yang tersisa dalam masyarakat sekarang adalah kultur auri sacra fames ‘rakus untuk mendapatkan emas’. Dengan kata lain, etika Protestan sekedar menjadi jembatan bagi lahirnya kapitalisme, ia (etika Protestan) tak menjiwai lagi setelahnya.
3.    Perubahan “Mode of Production”
Dalam memahami sejarah pertumbuhan dan perkembangan kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai kebangkitan pola produksi kapitalis dan transisi dari feodalisme ke kapitalisme. Mengenai pembahasan pertama, setelah runtuhnya feodalisme[8] (Sanderson, 1996: 168), produksi untuk dijual pelan-pelan mulai menggantikan peranan produksi untuk dipakai, sebagai tipe pokok aktivitas ekonomi di seluruh Eropa Barat. Sistem yang kita sebut kapitalisme ini muncul pada beberapa pokok dalam masa transisi. Akan tetapi kapan tepatnya kapitalisme lahir, merupakan pertanyaan yang dapat dijawab dengan melihat argumen Marx tentang kapitalisme .[9]
Menurut Marx, kapitalisme lahir pada abad 15 melalui perubahan mode of production ‘bentuk-bentuk produksi’, yakni pergeseran sedari “produksi untuk kegunaan”, menjadi “produksi untuk jual-beli”. Dalam hal ini, produksi untuk kegunaan adalah model ekonomi “barter”, sedang produksi untuk jual-beli adalah model ekonomi “uang”.
4.    Reformasi Gereja Abad 15-16
Bagi sebagian pihak, kapitalisme lahir melalui Reformasi Gereja abad 15-16. Dalam hal ini, kesewenang-wenangan gereja berikut penyimpangan akut gereja dengan memperjual-belikan surat pengampunan dosa menuai kritik keras para kaum humanis di Eropa kala itu. Beberapa tokoh sentral dalam peristiwa tersebut antara lain Erasmus, Martin Luther dan John Calvin. Pelucutan kekuasaan politik gereja, pemisahan kehidupan negara dengan agama (sekularisasi) yang dipelopori Reformasi Gereja lambat-laun menjalar dalam ranah ekonomi dan budaya. Pemisahan kehidupan negara dengan ekonomi tersebutlah yang nantinya melahirkan laissez-faire, suatu tata kehidupan ekonomi yang sama sekali lepas dari kontrol negara dan sepenuhnya diserahkan pada “pasar”.
5.    Revolusi Industri Abad 19[10]
Tak heran banyak pakar mendaulat Revolusi Industri abad 19 sebagai tonggak kelahiran kapitalisme, hal tersebut mengingat dengan digunakannya mesin dalam proses produksi (mekanisasi), komoditas yang dihasilkan pun kian masif dalam waktu yang relatif singkat. Ini berdampak pada kian cepatnya individu-individu pemilik alat-alat produksi mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya, dan dampak yang ditimbulkannya kemudian jelas: mempertajam jurang kesenjangan sosial antara pemilik alat produksi dengan buruh yang bekerja dalam proses produksi tersebut.
6.    The Wealth of Nations karya Adam Smith
Karya Smith, The Inquiry to The Nature and Causes of “The Wealth of Nations”, kerap didaulat banyak pihak sebagai tonggak lahirnya kapitalisme. Meskipun kondisi pemisahan antara kehidupan negara dengan ekonomi telah berlangsung sebelumnya, agaknya karya Smith dianggap sebagai “gong” penegasan berikut alasan-alasan ilmiah mengapa hal tersebut perlu dilakukan. Menurutnya, kehidupan ekonomi rakyat yang dibarengi dengan intervensi negara di dalamnya menyebabkan ekonomi rakyat sulit berkembang, hal ini disebabkan adanya pajak berikut upeti dari negara yang begitu memberatkan. Oleh karenanya menurut Smith, penghapusan total intervensi negara dalam kehidupan ekonomi rakyat merupakan keharusan. Tak pelak, melalui buah karyanya, Smith ditasbihkan sebagai “Bapak Kapitalisme” berikut “Bapak Pasar Bebas” .[11]
Setelah pembahasan mengenai sejarah lahirnya sistem kapitalisme, kemudian dalam perkembangannya kapitalisme terbagi menjadi dua tahapan, yaitu
1.    Kapitalisme awal
Sistem ekonomi liberal kapitalis klasik berlangsung sekitar abad ke-XVII sampai menjelang abad ke-XX, dimana individu/swasta mempunyai kebebasan penguasaan sumber daya maupun pengusaan ekonomi dengan tanpa adanya campur tangan pemerintah untuk mencapai kepentingan individu tersebut, sehingga mengakibatkan munculnya berbagai ekses negatif diantaranya eksploitasi buruh dan penguasaan kekuatan ekonomi. Untuk masa sekarang, sitem liberal kapitalis awal/klasik telah ditinggalkan.
2.    Sistem liberal kapitalis modern
Sistem ekonomi liberal kapitalis modern adalah sistem ekonomi liberal kapitalis yang telah disempurnakan. Beberapa unsur penyempurnaan yang paling mencolok adalah diterimanya peran pemerintah dalam pengelolaan perekonomian. Pentingnya peranan pemerintah dalam hal ini adalah sebagai pengawas jalannya perekonomian. Selain itu, kebebasan individu juga dibatasi melalui pemberlakuan berbagai peraturan, diantaranya undang-undang anti monopoli (Antitrust Law). Nasib pekerja juga sudah mulai diperhatikan dengan diberlakukannya peraturan-peraturan yang melindungi hak asasi buruh sebagai manusia. Serikat buruh juga diijinkan berdiri dan memperjuangkan nasib para pekerja. Dalam sistem liberal kapilalis modern tidak semua aset produktif boleh dimiliki individu terutama yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak, pembatasannya dilakukan berdasarkan undang-undang atau peraturan-peraturan. Untuk menghindari perbedaan kepemilikan yang mencolok, maka diberlakukan pajak progresif misalnya pajak barang mewah.[12]
B.   Ciri-ciri sistem ekonomi kapitalis
Sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sistem ekonomi dimana seluruh kegiatan ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sistem ini sesuai dengan ajaran dari Adam Smith, dalam bukunya “An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.” Adapun Ciri dari sistem ekonomi kapitalis sebagai berikut:
1.    Setiap orang bebas memiliki barang, termasuk barang modal
2.    Setiap orang bebas menggunakan barang dan jasa yang dimilikinya
3.    Aktivitas ekonomi ditujukan untuk memperoleh laba
4.    Semua aktivitas ekonomi dilaksanakan oleh masyarakat (Swasta)
5.    Pemerintah tidak melakukan intervensi dalam pasar
6.    Persaingan dilakukan secara bebas
7.    Peranan modal sangat vital
Kelebihan Sistem Ekonomi Pasar yaitu :
1.    Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi
2.    Setiap individu bebas memiliki sumber-sumber produksi
3.    Munculnya persaingan untuk maju
4.    Barang yang dihasilkan bermutu tinggi
5.    Efisiensi dan efektivitas tinggi karena setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari laba

Kekurangan Sistem Ekonomi Pasar :
1.    Sulitnya melakukan pemerataan pendapatan
2.    Cenderung terjadi eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal
3.    Munculnya monopoli yang dapat merugikan masyarakat
4.    Sering terjadi gejolak dalam perekonomian
C.   Sikap Islam Terhadap Kapitalisme
Keberadaan kapitalisme memang menjadi buah simalakama bagi masyarakat miskin. Sebab pasar telah di kuasai segelintir masyarakat dan tentu yang menguasai ekonomi pasar adalah para pemilik modal. Sedangkan masyarakat yang mengandalkan tenaga dalam bekerja, ternyata nasib mereka sangat jauh dari sebuah kesejahteraan. Sebab ekonomi mereka sudah menggantungkan diri terhadap para pemilik kapital. Karena pasar telah di kuasai para kapital dengan begitu perkasa dalam sebuah bangunan ekonomi.
Sebuah kapitalisme dalam kehidupan masyarakat telah terjadi sebuah pasar ekonomi yang sangat merugikan bagi masyarakat miskin. Sebab kompetisi dalam dunia ekonomi telah di kuasai oleh para pemilik kapital, padahal sudah seharusnya antara pemilik kapital dengan masyarakat pekerja harus saling berkesinambungan satu sama lain, agar terjadi sebuah fakta di lapangan secara saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.
Perjalanan kapitalisme dalam kehidupan masyarakat modern telah mempengaruhi sebuah realita kehidupan masyarakat, bahwa bentuk pasar bebas telah di kuasai para pemilik kapital. Sehingga menghasilkan sebuah nilai dengan istilah yang tak asing lagi di dengar, yaitu: yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin, tentu di karenakan kapitalisme telah merusak Sendi-sendi sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Sebab ekonomi hanya di kuasai segelintir orang dan para pemilik kapitallah yang menguasainya.
Sedangkan dalam ajaran Islam telah mengajarkan sebuah hubungan yang sehat, tentu tidak sebatas dengan istilah kebebasan, tetapi lebih mengarah sebuah tatanan yang saling menguntungkan antara yang satu dengan yang lainnya, apalagi dalam konsep ekonomi Islam sangat menentang mencari sebuah harta dengan cara haram, baik melalui proses riba, mencuri, menipu atau dalam bentuk kecurangan lain. Sehingga Islam berusaha menata ekonomi berdasarkan pada Nilai-nilai kemaslahatan dan sehat dalam berekonomi.
Islam sangat menekankan sebuah ekonomi dengan istilah ekonomi yang saling berkesinambungan dan tidak saling merugikan. Sehingga ekonomi Islam bukan hanya sebatas ekonomi dengan sebuah bahasa tentang kebebasan individu maupun sosial dalam membangun sebuah ekonomi, tetapi Islam membangun sebuah ekonomi dalam meraih sebuah kesejahteraan dengan jalan keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat secara universal.
Islam menilai bangunan ekonomi kapitalisme merupakan sebuah bentuk tentang teori ekonomi yang mengarah kepada kebebasan individu. Namun menegasikan sebuah Nilai-nilai ekonomi masyarakat secara universal. Sehingga kapitalisme cenderung mengarah dalam konsep parsial dan tidak menyentuh ekonomi dalam landasan keadilan masyarakat, sebab kapitalisme telah membuat sebuah formulasi tentang kebebasan dalam berkompetisi dengan cara memperkaya diri, tanpa menghiraukan dari sisi kemanusiaan secara luas dalam kehidupan masyarakat.[13]
Menurut Abdurrahman Wahid, Orientasi kapitalistik itu dapat dibedakan dari orientasi Islam. Dalam orientasi kapitalistik yang diutamakan adalah individu pengusaha besar dan pemilik modal. Dalam Islam, justru kepentingan rakyat-kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan yang menjadi ukuran.[14]
Islam tidak membenarkan adanya kelas-kelas masyarakat dan mencegah pemusatan kekayaan hanya di kalangan sekelompok kecil orang kaya sebagaimana yang ada dalam kapitalisme.
........ ös1 Ÿw tbqä3tƒ P's!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4
“…….supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di kalanganmu” (QS. 59: 7).
Islam menentang pula adanya perbedaan yang menyolok dalam hal kekayaan seperti yang terdapat dalam kapitalisme. Lebih dari satu ayat dalam al-Qur’an yang menentang adanya kekayan yang berlebih-lebihan dan orang- orang yang hidup bermewah-mewah.

“…….orang-orang yang lalim hanya mementingkan kehidupan mereka yang mewah, dan merekalah orang-orang yang berdosa” (QS. Huud (11): 116).
#Ó¨Lym !#sŒÎ) $tRõs{r& NÍkŽÏùuŽøIãB É>#xyèø9$$Î/ #sŒÎ) öNèd šcrãt«øgs ÇÏÍÈ
“Hingga apabila Kami turunkan siksa kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewahan di antara mereka, dengan serta merta mereka pun berteriak meminta pertolongan” (QS. 23: 64).
Walaupun demikian, Islam tidak menentang orang kaya asalkan dia dapat menguasai dirinya. Islam menjelaskan bahwa kekayaan itu tidak dicari untuk sekedar dikumpulkan tetapi dicari untuk berbakti kepada Allah dan untuk melaksanakan perbuatan yang baik, yang bermanfaat dan penuh kasih sayang. Ini menunjukkan bahwa makna kekayaan dalam Islam sangat berbeda dengan makna yang terdapat dalam sistem ekonomi materialistik dan kapitalisme. Sistem tersebut menganggap bahwa kekayaan sebagai kekuatan ekonomi dan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan.
Dalam pola ekonomi kapitalis dikenal adanya prinsip-prinsip kebebasan individu tanpa batas, adanya kelas-kelas dan eksploitasi kaum proletar yang berlebih, serta adanya pasar bebas. Islam mempunyai pola ekonomi yang berbeda dengan pola ekonomi kapitalis.
Menurut Mustafa Mahmud, pola kehidupan ekonomi Islam bertolak dari ajaran-ajaran tentang pemenuhan kebutuhan, kepentingan, kerja sama, saling tolong menolong, tidak bertolak dari perjuangan dan perlawanan antar kelas masyarakat.[15] Pola Islam itu berusaha mencari keseimbangan antara individu di dalam masyarakat dan tidak mengorbankan masyarakat untuk kebaikan kelompok kapitalis yang minoritas. Dengan kata lain kebebasan individu untuk memperoleh keuntungan adalah suatu prinsip dalam pola ekonomi Islam berbarengan dengan prinsip hak milik pribadi, campur tangan negara di bidang perekonomian dan hak milik bersama.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa Islam tidak memperkenankan eksploitasi terhadap si miskin oleh si kaya, ia juga tidak memberikan ampunan kepada orang memiliki investasi (modal) tanpa batas dengan tidak mempertimbangkan konsekuensi sosial dari tindakannya. Islam memang mengharamkan konsumsi pribadi yang tidak rasional, tetapi satu sisi memuji sedekah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan spiritual. Kekayaan pribadi dalam Islam merupakan amanat suci yang harus dinikmati oleh semuanya, terutama oleh fakir miskin yang membutuhkan.[16]
Pembicaraan lebih lanjut tentang tanggapan Islam terhadap kapitalisme kiranya dapat didasarkan pada permasalahan berikut: “Apakah Islam itu anti kapitalis” adalah merujuk pada pandangan bahwa Islam adalah berlawanan dengan kemajuan, rasionalitas, kebebasan dan demokrasi.[17] Kritik-kritik terhadap Islam semacam ini sering diajukan untuk menjelaskan keterbelakangan masyarakat dan kelemahan militer dari kerajaan-kerajaan Islam, tetapi kritik-kritik semacam ini tidak didasarkan kepada penemuan ilmiah. Tetapi kritik tersebut lebih merefleksikan kesan masyarakat Barat dan nilai-nilai kelas yang dominan yang cenderung diterapkan demi suksesnya satu sistem masyarakat yang didominasi oleh Barat. Kritik-kritik tersebut juga berkaitan dengan beberapa ketentuan khusus hukum Islam. Sehingga mengarahkan Barat kepada sesuatu hal yang masuk akal, yang secara berkala mempengaruhi intelektual Islam.
Rodinson berpendapat bahwa Islam tidak saja memiliki semangat rasional tetapi juga semangat komersial. Dan orang-orang Islam selalu bisa bekerja memenuhi ketentuan-ketentuan khusus al-Qur’an yang dimaksudkan untuk melawan rasionalitas ekonomi, itu adalah tidak benar sanggah Radinson. Yang benar adalah sejarah Islam telah ditentukan baik oleh karakter kewahyuan yang murni (nash) atau formasi sosial yang dipelihara pada masa awal Islam. Masyarakat awal Islam bukanlah masyarakat yang melestarikan perbudakan maupun feodal. Islam dimaksudkan untuk mengintegrasikan masyarakat Baduwi dengan pusat perdagangan dan budaya Arab. Tetapi seiring perubahan masyarakat itu Islam terpecah dan kompleks ketika mengadopsi syarat-syarat struktur negara pada masyarakat pertengahan.
Dengan demikian tidak ada struktur ekonomi tertentu yang dominan atau sesuai dengan Islam. Kapitalisme pernah eksis begitu pula model-model produksi yang lain dalam sejarah Islam.
Lebih lanjut Rodinson menyatakan bahwa kapitalisme adalah merupakan faktor eksternal yang ada di negara-negara Islam. Tetapi agama Islam tidak menghalangi masuknya kapitalisme. Tidak ada yang istimewa tentang kapitalisme dalam Islam, yang ada adalah pelarangan eksploitasi dan kekejaman.[18]
IV.     Simpulan
Kapitalisme telah menghegemoni perekonomian dunia, terutama di dunia ketiga (dunia Islam). Islam meyikapi dampak kapitalisme ini dengan cara memformulasikan sistem ekonomi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip ajaran Islam, yaitu kerja sama, tolong menolong, mengakui eksistensi individu tidak secara berlebihan, tidak ada dominasi kelas dan tidak ada pencarian keuntungan yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Para ahli juga melihat bahwa sistem kapitalis yang ada dalam dunia Islam itu bukanlah berasal dari faktor internal Islam itu sendiri, tetapi kapitalisme itu muncul karena adanya faktor eksternal. Oleh sebab itu, praktik kapitalisme di negara-negara Islam tidak ditolak secara mentah-mentah, tetapi praktik kapitalisme sebagian juga diadopsikan asalkan tidak ada eksploitasi dan kekejaman.


UNTUK FILE MAKALAH FORMAT "DOC" DENGAN REFERENSI KOMPLIT SILAHKAN DOWNLOAD DI SINI

masukkan email untuk mendapatkan tutorial gratis langsung dikirim ke email anda:

Delivered by FeedBurner

0 komentar:

Posting Komentar