Abstrak
Ekonomi pasar dengan watak kompetensinya telah mendorong
kapitalisme yang sejak awal perkembangannya selalu melakukan ekspansi baik
secara internal maupun eksternal. Dampak adanya ekspansi ekonomi pasar tersebut
telah membawa perubahan dalam skala ekonomi dunia dan juga membawa perubahan
pada dunia ketiga (dunia yang sedang berkembang), yaitu dengan membanjirnya
produk ekonomi, seperti; meningkatnya imigrasi sebagai dampak dari kegiatan
ekonomi, berkembang pesatnya teknologi, khususnya di bidang informasi,
elektronika, komunikasi dan bio-teknologi serta berhasilnya kampanye
internasional untuk mengglobalisasikan pembangunan kapitalisme dalam bidang
ekonomi. Menghadapi tantangan tersebut, Islam merespon dengan memberikan
tanggapan bahwa Islam tidak membenarkan adanya kelas-kelas masyarakat dan
mencegah pemusatan kekayaan hanya di kalangan kelompok kecil orang kaya
sebagaimana yang ada dalam kapitalisme. Islam menawarkan pola ekonomi yang
bertolak dari ajaran-ajaran tentang pemenuhan kebutuhan, kepentingan, kerja
sama, saling tolong menolong, tidak bertolak dari perjuangan dan perlawanan
antar kelas masyarakat.
Kata kunci: ekonomi, kapitalisme, Islam
I. Latar Belakang Masalah
Sebuah
keniscayaan bahwa manusia dalam kehidupan di dunia ini pasti tidak akan pernah lepas dari kehidupan berekonomi. Manusia membutuhkan makanan yang harus mereka konsumsi untuk bisa
bertahan hidup, makanan yang manusia makan juga harus didistribusikan dari para
produsen sehingga sampai pada konsumen yang membutuhkan. produksi, distribudi,
dan konsumsi menjadi kegiatan inti dari ekonomi yang pasti dilakukan manusia
demi memnuhi kebutuhannya. Dalam mendukung lancarnya itu semua diperlukan
sistem yang mengatur kegiatan ekonomi sehingga mampu menghasilkan kesejahteraan
bagi seluruh masyarakat. Tentu saja setiap masyarakat, negara dan bangsa
mempunyai kultur atau latar belakang yang
berbeda-beda sehingga dalam mengatur kegiatan ekonominya juga memiliki
sistem yang berbeda-beda meskipun ada juga yang menggunakan sistem yang sama
sesuai dengan keadaan lingkungan di mana sistem ini akan digunakan.
Dalam
ekonomi terdapat berbagai macam sistem yang merupakan hasil dari kemampuan
untuk menginterpretasikan yang berbeda-beda sesuai dengan kultur dan lingkungan
yang mempengaruhi cara berpikir untuk menemukan sebuah sistem. Kehidupan
berekonomi juga tak lepas dari berbagai masalah yang terus menghantui seperti
pengentasan kemiskinan, menyediakan kesempatan bagi setiap orang untuk
mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan dasar setiap individu, pemerataan
distribusi pendapatan dan kesejahteraan.
Ini
mendorong masyarakat membentuk sistem yang diharapkan nantinya mampu mengatasi
atau mencegah terjadinya masalah-masalah yang disebutkan di atas. Sistem
ekonomi dengan pusat perencanaan adalah negara, yang diklaim mampu untuk
memenuhi tujuan pokok, tidak hanya gagal untuk mewujudkannya tetapi juga menghadapi
krisis ekonomi yang serius, meyakinkan kegagalan sistem. Kemudian sistem
ekonomi pasar menawarkan bahwa sistem[1] Perekonomian dunia yang sangat mempengaruhi kehidupan
manusia, memiliki cerita sejarah yang panjang. Deretan tulisan yang
menerangkannya pun tak akan habis dibaca, selalu ada bagian tertentu yang masih
tersisa untuk dibuka dan dipahami.
Sistem perkonomian adalah sistem yang
digunakan oleh suatu negara dalam memecahkan berbagai permasalahan ekonomi yang
dialami oleh negara tersebut, misalnya pengalokasian sumber daya yang
dimilikinya, pelaksanaan produksi, distribusi dan konsumsi baik kepada
individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan yang mendasar antara
sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem
itu mengatur faktor produksinya. Dalam
beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi.
Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh
pemerintah.
Salah satu sistem perekonomian yang ada didunia adalah sistem ekonomi kapitalis, yaitu
sistem ekonomi dimana kekayaan produktif terutama dimiliki secara pribadi dan
pruduksi terutama untuk penjualan. Tujuan dari pemilikan pribadi tersebut
adalah untuk mendapatkan suatu keuntungan yang lumayan dari penggunaan kekayaan
pruduktif.
II. Rumusan Masalah
Agar bahsan dalam makalah ini dapat fokus pada topik yang dibahas yaitu, isu-isu kontemporer dalam studi islam IV “Islam dan
Kapitalisme” maka penulis menyusun
rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah sejarah kapitalisme?
2.
Bagaimanakah sikap Islam terhadap kapitalisme?
III.
Pembahasan
A. Sejarah Kapitalisme
Secara garis besar, di dunia ini pernah
dikenal dua macam sistem ekonomi, yakni: sistem ekonomi liberal atau kapitalis;
sistem ekonomi sosialis.[2]
kapitalisme
merupakan salah satu sistem ekonomi dengan asas pengembangan hak milik
pribadi dan pemeliharaannya, dengan tujuan perluasan paham kebebasan
(menentukan taraf hidup dan usaha). kapitalisme identik dengan globalisme dan
globalisasi, dimana orang-orang yg memiliki kapital (kepemilikan modal
dan alat produksi) dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.[3]
Untuk lebih
mudah memahami bagaimanakah sistem kapitalisme itu, berikut ini beberapa pengertian dari kapitalisme.
1.
Kamus Bahasa Indonesia Kapitalisme adalah, Sistem dan
paham ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modalnya, kegiatan
industrinya) bersumber pada modal pribadi atau
modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas.[4]
2.
G.G. Wells; “Kapitalisme adalah Suatu yang tidak dapat
didefinisikan, tapi pada umumnya kita menyebut sebagai sistem kapitalis,
sesuatu yang kompleks kebiasaan tradisional, energi perolehan yang tak
terkendalikan dan kesempatan jahat serta pemborosan hidup”.[5]
3. Kata
“kapital” dalam istilah “kapitalisme” berasal dari bahasa Latin, “caput”
yang berarti “kepala”. Pada abad 12-13, istilah tersebut mulai berubah makna
menjadi “dana”, “sejumlah uang”, “persediaan uang atau barang” berikut “bunga
uang pinjaman”. Pada perkembangannya kemudian, kapitalisme pun diartikan
sebagai paham yang menempatkan uang/modal di atas segala-galanya.[6]
4. Mas’oed ; Kapitalisme berasal dari capital
yang berarti modal, yang dimaksud modal adalah alat produksi seperti tanah,
uang dan sebagainya. Kata isme berarti suatu paham atau ajaran.
Jadi arti kapitalisme adalah sistem dan paham ekonomi yg
modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri
persaingan di pasaran bebas.[7]
Setidaknya,
terdapat enam versi sejarah kelahiran kapitalisme, antara lain sebagai berikut.
1. Persinggungan antara Masyarakat Agraris dengan
Agrikultur
Menurut
beberapa pakar, kapitalisme telah eksis di era agrikultur. Perlu dijelaskan
lebih jauh kiranya, masyarakat agraris adalah era di mana masyarakat mulai
bercocok tanam namun belum mengenal teknologi penunjang seperti irigasi
(pengairan). Dengan demikian, mereka sekedar bercocok tanam, dan ketika musim
kemarau tiba, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berburu, belum mampu
mengatasi tanaman yang kering akibat kemarau. Berbeda halnya dengan masyarakat
agraris, masyarakat agrikultur telah mengenal teknologi penunjang bagi kegiatan
bercocok tanamnya, sehingga ketika musim kemarau tiba, tak ada yang perlu
mereka risaukan.
Para
pakar meyakini bahwa ketika musim kemarau melanda masyarakat agraris, beberapa
dari mereka diutus untuk menemui masyarakat negeri seberang yang tetap memiliki
persediaan beras melimpah, mereka adalah masyarakat agrikultur. Sering, dalam
transaksi yang dilakukan masyarakat agraris untuk mendapatkan beras dari
masyarakat agrikultur, terjadi pertukaran yang tak seimbang dan merugikan
masyarakat agraris. Kerap, satu hingga dua ekor rusa buruan sekedar ditukar
dengan segenggam beras. Faktual, hal tersebut merupakan bentuk kapitalisme
paling primitif di dunia.
2. Etika Protestan
Max
Weber, sosiolog asal Jerman, memiliki sudut pandang yang berbeda atas lahirnya
kapitalisme dibanding para pakar lainnya. Ia mengidentifikasi kelahiran
kapitalisme melalui etika (ajaran berperilaku) Protestan. Dalam eksemplarnya
yang terkenal, The Protestan Ethic and Spirit Capitalism, Weber
menjelaskan bahwa dahulu kala terdapat seorang pendeta Protestan bernama John
Calvin yang menyerukan pada umatnya bahwa untuk beribadah kepada Tuhan mereka
harus melakukan tiga hal, antara lain;
1. Bekerja
keras (bekerja adalah “panggilan” Tuhan)
2. Berhemat
dan bersedekah
3. Mengutamakan
rasionalitas (pertimbangan untung-rugi akan konsekuensi tindakan yang diambil).
Tak
pelak, ketiga maklumat Calvin di atas mampu mentransformasi kondisi sosial,
ekonomi dan budaya masyarakat Eropa secara signifikan. “Siapapun yang
mengamalkan ketiga butir nasehat Calvin, pastilah akan menjadi kaya”,
komentar John Wesley. Lambat-laun, melalui aktualisasi etika Protestan,
masyarakat Eropa yang tradisional pun mulai beranjak pada era masyarakat
industri. Namun patut disayangkan, waktu demi waktu dimensi etika Protestan
yang terkandung di dalamnya pun turut luntur bersama kemajuan yang dibawanya.
Bagi Weber, apa yang tersisa dalam masyarakat sekarang adalah kultur auri
sacra fames ‘rakus untuk mendapatkan emas’. Dengan kata lain, etika
Protestan sekedar menjadi jembatan bagi lahirnya kapitalisme, ia (etika
Protestan) tak menjiwai lagi setelahnya.
3.
Perubahan “Mode of Production”
Dalam
memahami sejarah pertumbuhan dan perkembangan kapitalisme tidak bisa dilepaskan
dari pembahasan mengenai kebangkitan pola produksi kapitalis dan transisi dari
feodalisme ke kapitalisme. Mengenai pembahasan
pertama, setelah runtuhnya feodalisme[8]
(Sanderson, 1996: 168), produksi untuk dijual pelan-pelan mulai menggantikan
peranan produksi untuk dipakai, sebagai tipe pokok aktivitas ekonomi di seluruh
Eropa Barat. Sistem yang kita sebut kapitalisme ini muncul pada beberapa pokok
dalam masa transisi. Akan tetapi kapan tepatnya kapitalisme lahir, merupakan
pertanyaan yang dapat dijawab dengan melihat argumen Marx tentang kapitalisme .[9]
Menurut
Marx, kapitalisme lahir pada abad 15 melalui perubahan mode of production
‘bentuk-bentuk produksi’, yakni pergeseran sedari “produksi untuk kegunaan”,
menjadi “produksi untuk jual-beli”. Dalam hal ini, produksi untuk kegunaan
adalah model ekonomi “barter”, sedang produksi untuk jual-beli adalah model
ekonomi “uang”.
4. Reformasi
Gereja Abad 15-16
Bagi
sebagian pihak, kapitalisme lahir melalui Reformasi Gereja abad 15-16. Dalam
hal ini, kesewenang-wenangan gereja berikut penyimpangan akut gereja dengan
memperjual-belikan surat pengampunan dosa menuai kritik keras para kaum humanis
di Eropa kala itu. Beberapa tokoh sentral dalam peristiwa tersebut antara lain
Erasmus, Martin Luther dan John Calvin. Pelucutan kekuasaan politik gereja, pemisahan
kehidupan negara dengan agama (sekularisasi) yang dipelopori Reformasi Gereja
lambat-laun menjalar dalam ranah ekonomi dan budaya. Pemisahan kehidupan negara
dengan ekonomi tersebutlah yang nantinya melahirkan laissez-faire, suatu
tata kehidupan ekonomi yang sama sekali lepas dari kontrol negara dan
sepenuhnya diserahkan pada “pasar”.
5.
Revolusi Industri Abad 19[10]
Tak
heran banyak pakar mendaulat Revolusi Industri abad 19 sebagai tonggak
kelahiran kapitalisme, hal tersebut mengingat dengan digunakannya mesin dalam
proses produksi (mekanisasi), komoditas yang dihasilkan pun kian masif dalam
waktu yang relatif singkat. Ini berdampak pada kian cepatnya individu-individu
pemilik alat-alat produksi mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya, dan dampak
yang ditimbulkannya kemudian jelas: mempertajam jurang kesenjangan sosial
antara pemilik alat produksi dengan buruh yang bekerja dalam proses produksi
tersebut.
6. The
Wealth of Nations karya Adam Smith
Karya
Smith, The Inquiry to The Nature and Causes of “The Wealth of Nations”,
kerap didaulat banyak pihak sebagai tonggak lahirnya kapitalisme. Meskipun
kondisi pemisahan antara kehidupan negara dengan ekonomi telah berlangsung
sebelumnya, agaknya karya Smith dianggap sebagai “gong” penegasan berikut
alasan-alasan ilmiah mengapa hal tersebut perlu dilakukan. Menurutnya,
kehidupan ekonomi rakyat yang dibarengi dengan intervensi negara di dalamnya
menyebabkan ekonomi rakyat sulit berkembang, hal ini disebabkan adanya pajak
berikut upeti dari negara yang begitu memberatkan. Oleh karenanya menurut
Smith, penghapusan total intervensi negara dalam kehidupan ekonomi rakyat
merupakan keharusan. Tak pelak, melalui buah karyanya, Smith ditasbihkan
sebagai “Bapak Kapitalisme” berikut “Bapak Pasar Bebas” .[11]
Setelah pembahasan mengenai sejarah
lahirnya sistem kapitalisme, kemudian dalam perkembangannya kapitalisme terbagi
menjadi dua tahapan, yaitu
1. Kapitalisme
awal
Sistem ekonomi liberal kapitalis klasik berlangsung
sekitar abad ke-XVII sampai menjelang abad ke-XX, dimana individu/swasta
mempunyai kebebasan penguasaan sumber daya maupun pengusaan ekonomi dengan
tanpa adanya campur tangan pemerintah untuk mencapai kepentingan individu
tersebut, sehingga mengakibatkan munculnya berbagai ekses negatif diantaranya eksploitasi
buruh dan penguasaan kekuatan ekonomi. Untuk masa sekarang, sitem liberal
kapitalis awal/klasik telah ditinggalkan.
2. Sistem liberal
kapitalis modern
Sistem ekonomi liberal kapitalis modern adalah sistem
ekonomi liberal kapitalis yang telah disempurnakan. Beberapa unsur
penyempurnaan yang paling mencolok adalah diterimanya peran pemerintah dalam
pengelolaan perekonomian. Pentingnya peranan pemerintah dalam hal ini adalah
sebagai pengawas jalannya perekonomian. Selain itu, kebebasan individu juga dibatasi
melalui pemberlakuan berbagai peraturan, diantaranya undang-undang anti
monopoli (Antitrust Law). Nasib pekerja juga sudah mulai diperhatikan
dengan diberlakukannya peraturan-peraturan yang melindungi hak asasi buruh
sebagai manusia. Serikat buruh juga diijinkan berdiri dan memperjuangkan nasib
para pekerja. Dalam sistem liberal kapilalis modern tidak semua aset produktif
boleh dimiliki individu terutama yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat
banyak, pembatasannya dilakukan berdasarkan undang-undang atau
peraturan-peraturan. Untuk menghindari perbedaan kepemilikan yang mencolok,
maka diberlakukan pajak progresif misalnya pajak barang mewah.[12]
B. Ciri-ciri
sistem ekonomi kapitalis
Sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sistem ekonomi dimana seluruh kegiatan
ekonomi mulai dari produksi, distribusi dan
konsumsi diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Sistem ini sesuai dengan
ajaran dari Adam Smith, dalam bukunya “An Inquiry Into the Nature and Causes
of the Wealth of Nations.” Adapun Ciri dari sistem ekonomi kapitalis sebagai
berikut:
1.
Setiap orang bebas memiliki barang,
termasuk barang modal
2.
Setiap orang bebas menggunakan barang
dan jasa yang dimilikinya
3.
Aktivitas ekonomi ditujukan untuk
memperoleh laba
4.
Semua aktivitas ekonomi dilaksanakan
oleh masyarakat (Swasta)
5. Pemerintah
tidak melakukan intervensi dalam pasar
6. Persaingan
dilakukan secara bebas
7. Peranan modal
sangat vital
Kelebihan Sistem
Ekonomi Pasar yaitu :
1. Menumbuhkan
inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi
2. Setiap
individu bebas memiliki sumber-sumber produksi
3. Munculnya
persaingan untuk maju
4. Barang
yang dihasilkan bermutu tinggi
5.
Efisiensi dan efektivitas
tinggi karena setiap tindakan ekonomi didasarkan atas motif mencari laba
Kekurangan Sistem Ekonomi Pasar :
1. Sulitnya melakukan
pemerataan pendapatan
2. Cenderung
terjadi eksploitasi kaum buruh oleh para pemilik modal
3. Munculnya
monopoli yang dapat merugikan masyarakat
4. Sering terjadi
gejolak dalam perekonomian
C. Sikap Islam Terhadap Kapitalisme
Keberadaan kapitalisme memang menjadi buah
simalakama bagi masyarakat miskin. Sebab pasar telah di kuasai segelintir
masyarakat dan tentu yang menguasai ekonomi pasar adalah para pemilik modal.
Sedangkan masyarakat yang mengandalkan tenaga dalam bekerja, ternyata nasib
mereka sangat jauh dari sebuah kesejahteraan. Sebab ekonomi mereka sudah
menggantungkan diri terhadap para pemilik kapital. Karena pasar telah di kuasai
para kapital dengan begitu perkasa dalam sebuah bangunan ekonomi.
Sebuah kapitalisme dalam
kehidupan masyarakat telah terjadi sebuah pasar ekonomi yang sangat merugikan
bagi masyarakat miskin. Sebab kompetisi dalam dunia ekonomi telah di kuasai
oleh para pemilik kapital, padahal sudah seharusnya antara pemilik kapital
dengan masyarakat pekerja harus saling berkesinambungan satu sama lain, agar
terjadi sebuah fakta di lapangan secara saling melengkapi antara satu dengan
yang lainnya.
Perjalanan kapitalisme dalam kehidupan
masyarakat modern telah mempengaruhi sebuah realita kehidupan masyarakat, bahwa
bentuk pasar bebas telah di kuasai para pemilik kapital. Sehingga menghasilkan
sebuah nilai dengan istilah yang tak asing lagi di dengar, yaitu: yang kaya
semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin, tentu di karenakan
kapitalisme telah merusak Sendi-sendi sistem ekonomi dalam kehidupan
masyarakat. Sebab ekonomi hanya di kuasai segelintir orang dan para pemilik
kapitallah yang menguasainya.
Sedangkan dalam ajaran Islam telah
mengajarkan sebuah hubungan yang sehat, tentu tidak sebatas dengan istilah
kebebasan, tetapi lebih mengarah sebuah tatanan yang saling menguntungkan
antara yang satu dengan yang lainnya, apalagi dalam konsep ekonomi Islam sangat
menentang mencari sebuah harta dengan cara haram, baik melalui proses riba,
mencuri, menipu atau dalam bentuk kecurangan lain. Sehingga Islam berusaha
menata ekonomi berdasarkan pada Nilai-nilai kemaslahatan dan sehat dalam
berekonomi.
Islam sangat menekankan sebuah ekonomi
dengan istilah ekonomi yang saling berkesinambungan dan tidak saling merugikan.
Sehingga ekonomi Islam bukan hanya sebatas ekonomi dengan sebuah bahasa tentang
kebebasan individu maupun sosial dalam membangun sebuah ekonomi, tetapi Islam
membangun sebuah ekonomi dalam meraih sebuah kesejahteraan dengan jalan
keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat secara universal.
Islam menilai bangunan ekonomi
kapitalisme merupakan sebuah bentuk tentang teori ekonomi yang mengarah kepada
kebebasan individu. Namun menegasikan sebuah Nilai-nilai ekonomi masyarakat
secara universal. Sehingga kapitalisme cenderung mengarah dalam konsep parsial
dan tidak menyentuh ekonomi dalam landasan keadilan masyarakat, sebab
kapitalisme telah membuat sebuah formulasi tentang kebebasan dalam berkompetisi
dengan cara memperkaya diri, tanpa menghiraukan dari sisi kemanusiaan secara
luas dalam kehidupan masyarakat.[13]
Menurut Abdurrahman Wahid, Orientasi kapitalistik
itu dapat dibedakan dari
orientasi Islam. Dalam orientasi kapitalistik
yang diutamakan adalah
individu pengusaha besar
dan pemilik modal. Dalam
Islam, justru kepentingan rakyat-kesejahteraan
masyarakat secara
keseluruhan yang menjadi ukuran.[14]
Islam tidak membenarkan adanya kelas-kelas masyarakat dan
mencegah pemusatan kekayaan hanya di kalangan sekelompok
kecil orang kaya sebagaimana yang ada dalam kapitalisme.
........ ös1 w tbqä3t P's!rß tû÷üt/ Ïä!$uÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4
“…….supaya harta itu jangan hanya
beredar di antara orang-orang kaya saja di kalanganmu” (QS. 59: 7).
Islam menentang pula adanya perbedaan yang menyolok dalam hal kekayaan
seperti yang terdapat dalam kapitalisme. Lebih dari satu ayat dalam al-Qur’an
yang menentang adanya kekayan yang berlebih-lebihan dan orang- orang yang hidup
bermewah-mewah.
“…….orang-orang
yang lalim hanya mementingkan kehidupan mereka yang mewah, dan merekalah
orang-orang yang berdosa” (QS. Huud (11): 116).
#Ó¨Lym
!#sÎ)
$tRõs{r&
NÍkÏùuøIãB
É>#xyèø9$$Î/
#sÎ)
öNèd
crãt«øgs ÇÏÍÈ
“Hingga apabila
Kami turunkan siksa kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewahan di antara
mereka, dengan serta merta mereka pun berteriak meminta pertolongan” (QS. 23: 64).
Walaupun demikian, Islam tidak menentang orang kaya asalkan dia
dapat menguasai dirinya. Islam menjelaskan bahwa kekayaan itu tidak dicari
untuk sekedar dikumpulkan tetapi dicari untuk berbakti kepada Allah dan untuk melaksanakan
perbuatan yang baik, yang bermanfaat dan penuh kasih sayang. Ini menunjukkan
bahwa makna kekayaan dalam Islam sangat berbeda dengan makna yang terdapat
dalam sistem ekonomi materialistik dan kapitalisme. Sistem tersebut menganggap
bahwa kekayaan sebagai kekuatan ekonomi dan sebagai alat untuk mendapatkan
kekuasaan.
Dalam pola ekonomi kapitalis dikenal adanya prinsip-prinsip
kebebasan individu tanpa batas, adanya kelas-kelas dan eksploitasi kaum
proletar yang berlebih, serta adanya pasar bebas. Islam mempunyai pola ekonomi
yang berbeda dengan pola ekonomi kapitalis.
Menurut Mustafa Mahmud, pola kehidupan ekonomi Islam bertolak
dari ajaran-ajaran tentang pemenuhan kebutuhan, kepentingan, kerja sama, saling
tolong menolong, tidak bertolak dari perjuangan dan perlawanan antar kelas
masyarakat.[15]
Pola Islam itu berusaha mencari keseimbangan antara individu di dalam
masyarakat dan tidak mengorbankan masyarakat untuk kebaikan kelompok kapitalis
yang minoritas. Dengan kata lain kebebasan individu untuk memperoleh
keuntungan adalah suatu prinsip dalam pola ekonomi Islam berbarengan dengan
prinsip hak milik pribadi, campur tangan negara di bidang perekonomian dan hak
milik bersama.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa Islam tidak memperkenankan
eksploitasi terhadap si miskin oleh si kaya, ia juga tidak memberikan ampunan
kepada orang memiliki investasi (modal) tanpa batas dengan tidak
mempertimbangkan konsekuensi sosial dari tindakannya. Islam memang mengharamkan
konsumsi pribadi yang tidak rasional, tetapi satu sisi memuji sedekah sebagai
sarana untuk mencapai kebahagiaan spiritual. Kekayaan pribadi dalam Islam
merupakan amanat suci yang harus dinikmati oleh semuanya, terutama oleh fakir
miskin yang membutuhkan.[16]
Pembicaraan lebih lanjut tentang tanggapan Islam terhadap kapitalisme
kiranya dapat didasarkan pada permasalahan berikut: “Apakah Islam itu anti
kapitalis” adalah merujuk pada pandangan bahwa Islam adalah berlawanan dengan
kemajuan, rasionalitas, kebebasan dan demokrasi.[17]
Kritik-kritik terhadap Islam semacam ini sering diajukan untuk menjelaskan
keterbelakangan masyarakat dan kelemahan militer dari kerajaan-kerajaan Islam,
tetapi kritik-kritik semacam ini tidak didasarkan kepada penemuan ilmiah.
Tetapi kritik tersebut lebih merefleksikan kesan masyarakat Barat dan
nilai-nilai kelas yang dominan yang cenderung diterapkan demi suksesnya satu
sistem masyarakat yang didominasi oleh Barat. Kritik-kritik tersebut juga
berkaitan dengan beberapa ketentuan khusus hukum Islam. Sehingga mengarahkan
Barat kepada sesuatu hal yang masuk akal, yang secara berkala mempengaruhi
intelektual Islam.
Rodinson berpendapat bahwa Islam tidak saja memiliki semangat
rasional tetapi juga semangat komersial. Dan orang-orang Islam selalu bisa
bekerja memenuhi ketentuan-ketentuan khusus al-Qur’an yang dimaksudkan untuk
melawan rasionalitas ekonomi, itu adalah tidak benar sanggah Radinson. Yang
benar adalah sejarah Islam telah ditentukan baik oleh karakter kewahyuan yang
murni (nash) atau formasi sosial yang dipelihara pada masa awal Islam.
Masyarakat awal Islam bukanlah masyarakat yang melestarikan perbudakan maupun
feodal. Islam dimaksudkan untuk mengintegrasikan masyarakat Baduwi dengan pusat
perdagangan dan budaya Arab. Tetapi seiring perubahan masyarakat itu Islam
terpecah dan kompleks ketika mengadopsi syarat-syarat struktur negara pada
masyarakat pertengahan.
Dengan demikian tidak ada struktur ekonomi tertentu yang dominan
atau sesuai dengan Islam. Kapitalisme pernah eksis begitu pula model-model
produksi yang lain dalam sejarah Islam.
Lebih lanjut Rodinson menyatakan bahwa kapitalisme adalah
merupakan faktor eksternal yang ada di negara-negara Islam. Tetapi agama Islam
tidak menghalangi masuknya kapitalisme. Tidak ada yang istimewa tentang
kapitalisme dalam Islam, yang ada adalah pelarangan eksploitasi dan kekejaman.[18]
IV.
Simpulan
Kapitalisme telah
menghegemoni perekonomian dunia, terutama di dunia ketiga (dunia Islam). Islam
meyikapi dampak kapitalisme ini dengan cara memformulasikan sistem ekonomi yang
berlandaskan pada prinsip-prinsip ajaran Islam, yaitu kerja sama, tolong
menolong, mengakui eksistensi individu tidak secara berlebihan, tidak ada
dominasi kelas dan tidak ada pencarian keuntungan yang tidak mengindahkan
ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Para
ahli juga melihat bahwa sistem kapitalis yang ada dalam dunia Islam itu
bukanlah berasal dari faktor internal Islam itu sendiri, tetapi kapitalisme itu
muncul karena adanya faktor eksternal. Oleh sebab itu, praktik kapitalisme di
negara-negara Islam tidak ditolak secara mentah-mentah, tetapi praktik kapitalisme
sebagian juga diadopsikan asalkan tidak ada eksploitasi dan kekejaman.

0 komentar:
Posting Komentar